Ahad , 03 September 2017, 21:34 WIB

CSIS: Tragedi Rohingya Jadi Momentum ASEAN Ubah Prinsip

Rep: Rr Laeny Sulistyawati/ Red: Nur Aini
Human Rights Watch
Gambar citra satelit kondisi desa-desa di negara bagian Rakhine, Myanmar, yang dihuni oleh etnis Muslim Rohingya, pada November 2016.
Gambar citra satelit kondisi desa-desa di negara bagian Rakhine, Myanmar, yang dihuni oleh etnis Muslim Rohingya, pada November 2016.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Eksekutif Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Philips Vermont menyatakan konflik dan krisis kemanusiaan yang tengah terjadi pada Etnis Rohingya, Rakhine State, Myanmar menjadi ujian untuk Association of South East Asia Nations (ASEAN).

Menurutnya krisis yang terjadi saat ini jadi ujian besar bagi ASEAN di hari jadi ke-50 tahun ini karena sepanjang usianya tidak punya mekanisme yang solid menyelesaikan konflik internal dalam batas wilayah. "Karena saat 1999-2000 lalu terjadi kekerasan di Timor Leste, (ASEAN) tidak berdaya menyelesaikan kekerasan. Ini bisa jadi momentum yang baik buat ASEAN untuk bisa mengubah prinsip ASEAN yang non-interference untuk sedikit dilonggarkan," katanya saat konferensi pers pernyataan sikap Amnesty International Indonesia, di Jakarta, Ahad (3/9).

Ia menambahkan, banyaknya pengungsi dari etnis Rohingya memunculkan kewajiban bahwa negara-negara anggota ASEAN harusnya mempersiapkan dan menolong mereka. Meski ia menegaskan konflik di Myanmar bukan hanya menampung pengungsi tapi menyelesaikan konflik. "Kalau tidak diselesaikan akan terjadi terus-menerus," ujarnya. 

Ia menyebut Indonesia sebagai salah satu negara tetangga dan anggota ASEAN punya peluang untuk membantu menyelesaikan konflik Myanmar yang memanas. Saat ini, kata dia, pemerintah Myanmar percaya pada pemerintah Indonesia. Kepercayaan yang tinggi ini dinilai perlu dijaga pemerintah Indonesia dan ini jadi modal selain solusi diplomatik.  "Peneitian mengatakan, tidak banyak negara yang dipercaya pemerintah Myanmar. Myanmar tidak terlalu responsif terhadap Turki dan Malaysia tetapi lain halnya dengan indonesia yang terbuka," katanya. 

Indonesia, kata dia, bisa menjadi negara lain yang ingin membantu Myanmar baik melalui ASEAN atau diplomasi bilateral Indonesia. Ia mengapresiasi pemerintah Indonesia sudah berdiplomasi lewat Menteri Luar Negeri Retno Marsudi beberapa waku lalu. "Jadi saya sangat setuju perlu kehati-hatian dan kesabaran, tidak bisa emosional ketika terjadi di negara lain," ujarnya.