Ahad , 27 August 2017, 19:02 WIB

Respons Ancaman Trump, Venezuela Gelar Latihan Militer

Rep: Puti Almas/ Red: Budi Raharjo
EPA/Miguel Gutierrez
Seorang pengunjuk rasa melemparkan bom molotov saat berunjuk rasa di Kota Karakas, Venezuela.
Seorang pengunjuk rasa melemparkan bom molotov saat berunjuk rasa di Kota Karakas, Venezuela.

REPUBLIKA.CO.ID,CARACAS -- Pasukan militer Venezuela menggelar latihan angkatan bersenjata nasional, Sabtu (27/8). Langkah ini dimulai sebagai respon atas ancaman Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang memperingatkan akan adanya tindakan terhadap negara tetangga tersebut yang tengah dilanda krisis dan konflik.

Pada dua pekan lalu, Trump memberi peringatan terhadap Pemerintah Venezuela pada dua pekan lalu. Ia juga menandatangani sebuah perintah yang melarang adanya kegiatan transaksi bisnis dari negara itu, serta perusahaan minyak.

Langkah ini ditujukan untuk menekan Presiden Venezuela Nicolas Maduro yang dianggap memnciptakan krisis di negaranya. Kekacauan di Venezuela semakin terjadi menyusul adanya pemilihan majelis nasional baru yang digelar pemerintah negara itu pada 30 Juli lalu.

Pemilihan ini sebelumnya telah menimbulkan kontroversi dari para pengunjuk rasa anti-pemerintah dan menimbulkan bentrokan. Oposisi di Venezuela sebelumnya melihat konstitusi baru hanya akan menjadi pelopor kediktatoran baru bagi pemerintahan Maduro.

Presiden dianggap dapat memaksimalkan kekuasaannya. Ia juga dapat mengesampingkan legislatif yang dikuasai pihak mereka melalui pemilihan majelis baru tersebut.

Atas ancaman aksi militer dari Trump, Pemerintah Venezuela meminta semua warga sipil untuk bergabung dalam latihan angkata bersenjata tersebut. Nantinya, mereka akan bergabung sebagai tim pasukan cadangan.

"Terhadap ancaman perang dari AS, semua warga venezuela yang berusia antara 18 hingga 60 diminta diminta berkontribusi dalam pertahanan integral negara," ujar pengumuman Pemerintah Venezuela, dilansir BBC, Ahad (27/8).

Jauh sebelumnya, krisis dan kekacauan di Venezuela telah terjadi seiring dengan krisis ekonomi yang terus meningkat. Inflasi negara itu diperkirakan mencapai hingga 700 persen pada tahun ini, berdasarkan data yang diperoleh dari Dana Moneter Internasional (IMF).

Politisi oposisi menyalahkan kebijakan sosialis yang diterapkan oleh Maduro, serta pendahulunya mantan presiden Hugo Chavez. Gelombang protes terhadapnya juga terus berlangsung dalam beberapa bulan terakhir, yang berujung dengan bentrokan.