Sabtu , 12 August 2017, 10:29 WIB

Trump Ancam Balik Korut Soal Serangan ke Guam

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Ratna Puspita
AP
Uji coba peluncuran rudal balistik Korea Utara.
Uji coba peluncuran rudal balistik Korea Utara.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah memperingatkan Korea Utara (Korut) bahwa negara tersebut akan menghadapi masalah besar bila berani menyerang Guam, sebuah pulau di Samudra Pasifik yang menjadi basis dan pangkalan militer AS. Walaupun Trump juga mengklaim pulau tersebut akan sangat aman dari ancaman rudal Korut.

Trump sebelumnya menegaskan opsi militer telah tersedia dan terkunci untuk Korut. Kendati demikian, AS masih enggan menempuh opsi tersebut. “Saya harap mereka (Korut) akan benar-benar memahami apa yang saya katakan, dan apa yang saya katakan adalah apa yang saya maksud. Kata-kata itu sangat-sangat mudah dimengerti,” ungkapnya seperti dikutip laman BBC, Sabtu (12/8).

Namun bila Korut ternyata mengabaikan peringatannya dan tetap melancarkan serangan ke Guam, Trump bersumpah Korut dan pemimpinnya akan menyesali tindakannya. “Jika dia (Kim Jong-un) melancarkan satu ancaman dalam bentuk ancaman terbuka berkaitan dengan Guam atau tempat lain yang merupakan wilayah AS atau sekutunya maka dia akan benar-benar menyesalinya dan akan menyesalinya cepat,” ujar Trump.

Kendati demikian Trump meyakinkan warga AS yang berada di Guam bahwa pulau tersebut cukup aman dari ancaman rudal Korut. “Sangat aman, percayalah,” ucapnya. 

Trump juga mengungkapkan dia akan kembali berkomunikasi dengan Presiden Cina Xi Jinping terkait meningkatnya situasi yang sangat berbahaya. “Mudah-mudahan semuanya berjalan baik. Tidak ada yang menyukai solusi damai lebih baik dari Presiden Trump, itu yang dapat saya katakan kepada Anda,” katanya.

Pada Jumat (11/8), kantor berita resmi Korut, yakni KCNA, melayangkan tuduhan kepada AS. Mereka menyebut Washington sedang melakukan tindakan kriminal untuk membawa bencana nuklir ke Korea. “AS adalah dalang ancaman nuklir, perang nuklir yang kejam dan fanatik,” kata KCNA dalam laporannya.

Hal ini semakin meningkatkan ketegangan antara AS dan Korut yang sebelum-sebelumnya telah terlibat pernyataan saling ancam dan kecam. Hal ini pula yang dikhawatirkan oleh Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov. Menurutnya, saat ini potensi konflik militer antara AS dengan Korut sangat tinggi. Sebab itu Lavrov bersama dengan Cina berencana untuk meredam ketegangan di antara kedua negara.

Kanselir Jerman Angela pun turut menyoroti meningkatnya ketegangan antara Pyongyang dan Washington. Ia menilai tidak ada solusi militer dan eskalasi retorika yang dipertontonkan kedua negara adalah jawaban yang salah atau tidak memecahkan krisis.