Jumat , 11 August 2017, 20:28 WIB

AS dan Korsel akan Gelar Latihan Militer Gabungan

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Esthi Maharani
Reuters/Missile Defense Agency
Militer Amerika Serikat (AS) mulai memindahkan sebagian sistem pertahanan antirudal Terminal High Altitude Area Defence (THAAD) yang kontroversial ke lokasi penempatannya di Korea Selatan, Rabu (26/4).
Militer Amerika Serikat (AS) mulai memindahkan sebagian sistem pertahanan antirudal Terminal High Altitude Area Defence (THAAD) yang kontroversial ke lokasi penempatannya di Korea Selatan, Rabu (26/4).

REPUBLIKA.CO.ID, SEOUL – Amerika Serikat (AS) dan Korea Selatan (Korsel) akan menggelar latihan militer gabungan pada akhi bulan ini. Latihan yang akan melibatkan medan laut, darat, dan udara dilakukan dalam rangka mengantisipasi serangan atau agresi Korea Utara (Korut).

Latihan gabungan tahunan bernama Ulchi-Freedom Guardian ini rencananya akan digelar pada 21-31 Agustus mendatang. “Latihan yang akan melibatkan puluhan ribu tentara AS dan Korsel ini merupakan penghalang terhadap agres Korut,” kata Washington dan Seoul dalam sebuah pernyataan bersama seperti dikutip laman the Guardian, Jumat (11/8).

Saat ini, pasukan AS juga telah menggelar latihan militer gabungan dengan Jepang di Hokaido. Latihan ini pun dimaksudkan untuk mengantisipasi serangan Korut.

AS memang tengah bersiaga menghadapi ancaman agresi Korut. Sebab negara pimpinan Kim Jong-un tersebut telah menyatakan akan meluncurkan empat rudal ke Pulau Guam yang merupakan pangkalan dan basis militer AS di Pasifik. Korut mengatakan akan merampungkan rencana serangan ke Guam sebelum pertengahan Agustus.

Menanggapi hal itu, Presiden AS Donald Trump telah sesumbar dan memperingatkan Korut bila berani menyerang AS atau sekutu ataupun pihak-pihak lain yang mewakilinya. “Sesuatu akan menimpa mereka (Korut) seperti yang tidak pernah mereka duga,” ujar Trump.

Ketegangan antara AS dan Korut kembali terjadi setelah Korut dijatuhkan sanksi ekonomi baru oleh PBB yang diinisiasi AS. Sanksi tersebut berupa larangan ekspor komoditas utama Korut seperti batubara, besi, dan hasil lautnya. Korut terancam merugi 3 miliar dolar setiap tahunnya akibat sanksi tersebut.

Tak ayal sanksi PBB memicu kemarahan Kim Jong-un. Korut menjanjikan balasan ribuan kali lipat balas dendam atas sanksi yang diterimanya, termasuk menyerang Guam yang dihuni sekitar 160 ribu warga AS.

Berita Terkait