Selasa , 02 May 2017, 16:18 WIB

Sistem Pertahanan Antirudal AS Telah Beroperasi di Korsel

Rep: Fira Nursya'bani/ Red: Esthi Maharani
Reuters/Missile Defense Agency
Militer Amerika Serikat (AS) mulai memindahkan sebagian sistem pertahanan antirudal Terminal High Altitude Area Defence (THAAD) yang kontroversial ke lokasi penempatannya di Korea Selatan, Rabu (26/4).
Militer Amerika Serikat (AS) mulai memindahkan sebagian sistem pertahanan antirudal Terminal High Altitude Area Defence (THAAD) yang kontroversial ke lokasi penempatannya di Korea Selatan, Rabu (26/4).

REPUBLIKA.CO.ID, SEOUL - Militer Amerika Serikat mengatakan sistem pertahanan antirudal Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) AS yang kontroversial, telah mulai beroperasi di Korea Selatan. Sistem pertahanan ini bisa mencegat rudal yang ditembakkan Korea Utara, meski sebenarnya kemampuan operasionalnya masih dipersiapkan dalam beberapa bulan lagi.

Pekan lalu, AS mengumumkan pihaknya akan mengaktifkan THAAD dalam beberapa hari seiring dengan meningkatnya ketegangan di Semenanjung Korea. THAAD sebelumnya diperkirakan tidak akan digunakan sampai akhir 2017.

Sistem pertahanan ini telah dipasang di wilayah bekas lapangan golf di Seongju. Banyak penduduk setempat percaya, sistem ini menjadi target potensial serangan dan membahayakan kehidupan warga yang tinggal di dekatnya.

Juru bicara militer AS yang berbasis di Korea Selatan mengatakan, THAAD baru memiliki kemampuan mencegat awal. Sistem ini akan diperkuat pada akhir tahun 2017, menunggu tibanya lebih banyak elemen dari sistem tersebut ke Korea Selatan.

Cina juga memprotes THAAD dan mengatakan jangkauan radar sistem itu dapat mengganggu operasi keamanan militernya. Ketika pemasangan THAAD diumumkan tahun lalu, Korea Utara menjanjikan serangan balasan yang cukup kejam.

Dilansir dari BBC, THAAD mampu menembak jatuh rudal balistik jarak pendek dan jarak menengah. Dengan teknologi hit-to-kill, energi kinetik sistem dapat menghancurkan hulu ledak yang ada.

Jarak tempuh THAAD sejauh 200 km dan dapat mencapai ketinggian 150 km. Sistem ini sebelumnya telah digunakan di Guam dan Hawaii sebagai sistem pertahanan terhadap serangan potensial dari Korea Utara.