Selasa , 18 April 2017, 11:33 WIB

Korut dan Suriah Bahu-membahu Hadapi Ancaman AS

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Teguh Firmansyah
DigitalGlobe via AP
Citra satelit DigitalGlobe pada 7 April 2017 menunjukkan bangunan yang hancur di bagian tenggara pangkalan udara Shayrat, Suriah akibat diserang rudal tomahawk AS.
Citra satelit DigitalGlobe pada 7 April 2017 menunjukkan bangunan yang hancur di bagian tenggara pangkalan udara Shayrat, Suriah akibat diserang rudal tomahawk AS.

REPUBLIKA.CO.ID, DAMASKUS -- Duta Besar (Dubes) Suriah untuk Korea Utara (Korut) Tammam Sulaiman mengecam tindakan dan intervensi Amerika Serikat (AS) terhadap Suriah dan Korut. Ia menilai AS kerap kali mengirim pesan diplomatik dengan mengancam dan bahkan melakukan serangan militer seperti yang belum lama ini dilakukan terhadap Suriah.

AS, kata Sulaiman, melakukan kekeliruan ketika mengirim pesan ancaman itu. "Jika mereka ingin menyebut apa yang mereka lakukan itu (ancaman dan agresi) sebagai pesan atau apapun, ini tidak masuk akal," ucapnya seperti dilaporkan laman Aljazirah, Selasa (18/4).

Ia berpendapat, AS seharusnya mencari solusi, bukan malah melancarkan agresi militer. "Yang masuk akal adalah untuk melihat apakah AS benar-benar serius dalam mencari solusi, apakah di Suriah atau Korut," ujar Sulaiman.

Ia juga memahami mengapa Korut begitu giat mengembangkan rudal nuklirnya.  Karena mereka bersiap guna menghadapi agresi AS. 

Sebelumnya, terkait ketegangan di Semenanjung Korea, Wakil Presiden AS Mike Pence memperingatkan Korut bahwa AS tidak pernah main-main. Pence mengambil contoh ketika AS meluncurkan rudal jelajah untuk menyerang Suriah belum lama ini. Kemudian membombardir Afghanistan. Menurutnya, hal itu menjadi bukti bahwa tekad Presiden AS Donald Trump tidak lagi perlu diuji.

Menanggapi pernyataan Pence, Direktur Jenderal Departemen Eropa di Kementerian Luar Negeri Korut, Kim Son-gyong, menganggap bahwa keputusan Korut untuk tetap mengembangkan rudalnya memang tidak salah.

"Insiden (penyerangan AS ke) Suriah membuktikan bahwa kebijakan kami untuk meningkatkan kemampuan pertahanan nasional dan mengencangkan ikat pinggang kita adalah kebijakan yang tepat," katanya.

Baca juga,  AS Serang Suriah, 59 Misil Ditembakkan.