Sabtu , 15 April 2017, 13:21 WIB

Pemerintah dan Oposisi Evakuasi 10 Ribu Warga Suriah dari Empat Kota

Rep: Fira Nursya'bani/ Red: Reiny Dwinanda
DigitalGlobe via AP
Citra satelit DigitalGlobe pada 7 April 2017 menunjukkan bangunan yang hancur di bagian tenggara pangkalan udara Shayrat, Suriah akibat diserang rudal tomahawk AS.
Citra satelit DigitalGlobe pada 7 April 2017 menunjukkan bangunan yang hancur di bagian tenggara pangkalan udara Shayrat, Suriah akibat diserang rudal tomahawk AS.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIRUT -- Pemerintah dan oposisi Suriah mulai melakukan evakuasi terhadap sekitar 10 ribu warga. Warga yang dievakuasi berasal dari empat kota yang menjadi lokasi perang sipil. Sekitar 5.000 orang diungsikan dengan menggunakan 75 bus dari dua kota pro-pemerintah, yaitu Foua dan Kfraya, Jumat (14/4).

Menurut Abdul Hakim Baghdadi, petugas yang membantu menegosiasikan evakuasi, ada sekitar 60 bus yang membawa 2.350 warga dari dua kota yang dikuasai oposisi, yaitu Madaya dan Zabadani, ke Idlib. Sedangkan 3.000 pengungsi lainnya akan kembali dibawa dari Foua dan Kfraya.

Syrian Observatory for Human Rights mengatakan, jika evakuasi selesai, maka proses ini akan menjadi proses evakuasi pertama yang akan dilakukan selama dua bulan untuk mengevakuasi sekitar 30 ribu warga Suriah dari daerah yang terkepung. Madaya dan Zabadani adalah kota terbaru yang dikuasai pemberontak, yang telah tunduk terhadap pemerintahan Presiden Bashar al-Assad.

Pasukan pro-pemerintah telah melakukan pengepungan di kota-kota tersebut selama hampir dua tahun. Banyak warganya yang terpaksa memburu tikus untuk mencegah kelaparan di musim dingin. Foto anak-anak yang kurus dan kelaparan juga mengejutkan dunia dan memberikan urgensi baru kepada PBB untuk melakukan operasi bantuan di Suriah.

“Kami sudah pindah. Kami berada di pinggiran kota,” kata Mohammed Darwish, yang menyediakan perawatan medis di Madaya, dikutip Arab News. 

Darwish terpaksa meninggalkan universitas pada tahun terakhir studi kedokteran gigi, ketika ia bergabung dengan gerakan untuk menggeser Presiden Assad enam tahun yang lalu. 

Di Madaya, warga diberi pilihan untuk tetap tinggal di dalam kota dan mendukung pemerintah. Mereka harus setia kepada rezim Assad dan bersumpah untuk tidak mengeluarkan perbedaan pendapat.

Pembelot militer kembali dipanggil untuk bertugas dalam angkatan bersenjata selama enam bulan hingga satu tahun atau untuk mengajukan permohonan pembebasan. Sebanyak 40 ribu warga diperkirakan akan menerima persyaratan itu.

Namun, menurut Darwish, sebanyak 2.000 orang tidak akan menerimanya. Mereka, termasuk mantan militer, aktivis, dan pekerja medis, tidak dapat melupakan kekejian pasukan pemerintah saat memporak-porandakan rumah mereka.

Darwish mengatakan pemerintah telah melakukan penahanan, penyiksaan, dan pengeboman terhadap tenaga medis di seluruh wilayah konflik. “Lebih berbahaya bagi dokter daripada bagi seorang pemberontak untuk tetap tinggal,” kata dia.

Penawaran serupa diberikan pemerintah di wilayah yang telah dikuasai rezim Assad, termasuk Moadamiyeh, Hameh, Qudsaya, dan Lembah Barada. Selain itu, penawaran juga diberikan di Aleppo dan Homs, kota terbesar pertama dan ketiga di Suriah.

Kesepakatan evakuasi ditengahi oleh Qatar, yang melakukan negosiasi antara oposisi dan Iran dengan rezim Assad, pada Maret lalu.