Kamis , 02 February 2017, 08:25 WIB

Larangan Imigrasi Trump tak Pengaruhi Aktivitas WNI di AS

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Ani Nursalikah
Marcio Jose Sanchez/AP
Unjuk rasa menolak kebijakan Trump yang melarang pendatang muslim ke Amerika di Bandara Internasional San Francisco.
Unjuk rasa menolak kebijakan Trump yang melarang pendatang muslim ke Amerika di Bandara Internasional San Francisco.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Perintah eksekutif larangan datang ke AS terhadap warga dari tujuh negara mayoritas Muslim membuat warga Indonesia di AS waspada, Kamis (2/2). Beberapa waktu lalu, Kementerian Luar Negeri Indonesia mengonfirmasi aktivitas bilateral AS-Indonesia tidak terpengaruh.

Seorang WNI yang tinggal di New York, Muhammad Rifkiaansyah juga mengatakan kehidupan sehari-hari di sana tidak ada perubahan. Meski demikian, ia menyadari kebijakan Donald Trump tersebut membawa ketegangan signifikan.

"Di berita-berita pasti ramai dan banyak demo di bandara, tapi sejauh ini kehidupan sehari-hari berjalan masih aman," kata pekerja di Konsulat Jenderal RI New York tersebut.

Rifki mengakui ada sejumlah kekhawatiran dari komunitas Muslim Indonesia. Tapi semua itu membuat mereka lebih waspada dan mencari lebih banyak informasi soal kebijakan baru tersebut. Kondisi lebih serius dialami warga tujuh negara dalam daftar yang berada di AS.

"Mereka lebih prihatin dan sedih karena keluarganya tidak bisa datang ke sini," kata Rifki.  

Baca: Warga Yahudi Israel Lahir di Tujuh Negara Muslim Boleh Masuk AS

WNI di AS merasa bimbang dengan kejelasan informasi tentang perintah eksekutif Trump. Meski Indonesia tidak masuk daftar, ada kekhawatiran WNI menghadapi sejumlah masalah dalam praktiknya saat mengajukan visa.

Menurutnya, pemerintah telah mengimbau untuk tetap waspada dan hati-hati jika ada masalah keimigrasian. WNI diminta segera melapor. Rifki mengatakan hingga saat ini tidak ada masalah atau laporan kesulitan imigrasi bagi WNI.

Konjen RI dan Kedutaan Besar Indonesia di Washington juga tetap waspada dan memantau keadaan. "Jika sudah terbukti tidak ada masalah, lama-lama kecemasan WNI akan hilang," katanya.

Ia pun berharap semoga daftar negara dalam kebijakan Trump tidak bertambah. Rifki mengatakan kehidupan beragama bagi Muslim di New York cukup kondusif. Banyaknya imigran membuat penduduknya lebih toleran dan menjunjung hak beragama. Islamofobia pun tidak terjadi di New York.

"Di sini menjalankan agama terbilang aman, seperti orang berkerudung mau kerja apa saja bisa, tidak dipersulit, yang penting kualitas kerja bagus," kata pria yang berada di AS sejak 2014. Ini membuatnya merasa aman sebagai Muslim.