Tuesday, 4 Jumadil Akhir 1439 / 20 February 2018

Tuesday, 4 Jumadil Akhir 1439 / 20 February 2018

NASA Gelar Kompetisi Desain Baju Ruang Angkasa Berhadiah Rp 390 Juta

Jumat 25 November 2016 02:23 WIB

Rep: Fira Nursya'bani/ Red: Reiny Dwinanda

Astronot Chris Hadfield berpose di Stasiun Luar Angkasa Internasional, pada tahun 2013.

Astronot Chris Hadfield berpose di Stasiun Luar Angkasa Internasional, pada tahun 2013.

Foto: Twitter, Chris Hadfield

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- NASA tampaknya sangat sibuk menyiapkan teknologi ngiriman manusia ke Mars dan menyiapkan teknologi-teknologi lainnya SAMPAI Badan Antariksa AS tersebut tidak menyadari masalah sederhana yang segera perlu ditangani. Salah satu masalah yang dihadapi NASA adalah penyediaan baju ruang angkasa yang bisa memudahkan astronot melakukan panggilan alam, baik buang air besar maupun kecil.

Astronot di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) selama ini sangat terikat dengan baju ruang angkasa yang mereka kenakan saat bekerja di luar stasiun. Urusan buang air, bukan hal yang mudah bagi mereka. Para astronot harus pergi ke kamar mandi dan melepas pakaian tersebut.

Solusi saat ini, baju ruang angkasa dilengkapi dengan bantalan penyerap, seperti popok dalam bentuk besar. Namun, solusi itu hanya dirancang bagi astronot untuk menjalankan tugas yang singkat di luar ISS.

Dalam keadaan darurat, astronot dipaksa mengenakan pakaian yang penuh dengan kotoran mereka selama beberapa hari. Hal itu berpotensi menyebabkan infeksi atau bahkan sepsis dari limbah sekresi yang menumpuk.

"Untuk melakukan perjalanan ke bulan dan Mars, kami akan menghadapi banyak masalah untuk dipecahkan. Sebagian besar dari itu adalah masalah teknis yang sangat kompleks, tapi ada juga yang sederhana seperti bagaimana kita buang air di ruang angkasa," ujar astronot NASA Rick Mastracchio, dilansir dari Daily Mail.

Untuk mengatasinya, NASA telah meluncurkan sebuah kompetisi desain baju ruang angkasa yang dapat mengatasi limbah sekresi manusia. NASA secara khusus menyediakan dana sebesar 30 ribu dolar AS atau Rp 390 juta untuk desainer dengan desain terbaik.

Dengan sistem pengelolaan limbah di dalam baju ruang angkasa, diharapkan para astronot mampu bekerja lebih lama di luar ISS. Baju bisa membersihkan kotoran sampai para astronot selesai bekerja, kembali ke ISS, dan menemukan kamar mandi.

Saat ini, astronot di ISS buang air di kamar mandi dengan menggunakan sistem hisap. Mereka menggunakan pembatas di kursi, yang menjamin tidak ada limbah dapat tercecer terbang saat mereka selesai buang air. Beberapa limbah sekresi dibawa kembali ke bumi, sedangkan sisanya terbakar di atmosfer bumi.

Hasil kompetisi paling lambat dikumpulkan pada 20 Desember mendatang. Desain-desain yang terpilih akan digunakan dan diuji coba NASA selama tiga sampai empat tahun.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES