Minggu, 5 Zulqaidah 1435 / 31 Agustus 2014
find us on : 
  Login |  Register

Cina Ingin Akhiri Konflik di Sudan Selatan

Selasa, 07 Januari 2014, 18:27 WIB
Komentar : 1
Sudan dan Sudan selatan
Sudan dan Sudan selatan

REPUBLIKA.CO.ID, ADDIS ABABA -- Pemerintahan Cina menyerukan Sudan Selatan dan negara tetangganya untuk mengakhiri pertikaian dan fokus pada kekuatan militer bersama untuk melindungi ladang minyak penting mereka dari pemberontak.

Ini merupakan intervensi politik terbuka yang sangat langka dan berani yang dilakukan Cina di Afrika.

Menteri Luar Negeri Cina, Wang Yi, menyatakan keprihatinannya dengan kerusuhan di Sudan Selatan yang menewaskan lebih dari 1.000 orang. Permusuhan berkepanjangan ini juga telah mengurangi hingga seperlima aliran minyak di dunia.

"Posisi Cina berkaitan dengan situasi saat ini di Sudan Selatan sangat jelas. Kami menyerukan segera hentikan permusuhan dan kekerasan di negara ini," kata Wang kepada wartawan di Addis Ababa, dilansir dari the Guardian, Selasa (7/1).

Cina akan melakukan apapun yang bisa mereka lakukan untuk memulihkan stabilitas di Sudan Selatan dan mendesak kekuatan internasional untuk mendukung upaya mediasi di sana. Wang bahkan berani bertemu dengan kedua kubu pemberontak dan delegasi pemerintah.

Cina adalah mitra dagang tunggal terbesar di Afrika, disusul Amerika Serikat selama beberapa dekade terakhir. Namun, Cina mengaku tetap netral dan tidak ikut campur dalam politik internal negara-negara Afrika.

Cina menjadi investor terbesar di ladang minyak Sudan Selatan, melalui grup China National Petroleum Corp (CNPC) dan Sinopec. Konflik di Sudan membuat Cina terpaksa mengevakuasi pekerja-pekerjanya di sana.
Sudan Selatan diperkirakan sebagai sumber cadangan minyak terbesar ketiga di Sub Sahara Afrika.

Reporter : Mutia Ramadhani
Redaktur : Djibril Muhammad
"Tidak masuk surga orang yang ada dalam hatinya seberat biji sawi dari kesombongan"((HR Muslim))
FOTO TERKAIT:
VIDEO TERKAIT:
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

Berita Lainnya

Iran-Qatar Perluas Hubungan

Sekjen PBB Prihatinkan Kerusuhan Bangladesh

Pria Taiwan Selamat Setelah Dua Hari Mengapung di Laut