Sabtu, 11 Jumadil Awwal 1434 / 23 Maret 2013
find us on : 
  Login |  Register

Pariwisata Mampu Entaskan Kemiskinan

Jumat, 22 Maret 2013, 12:24 WIB
Komentar : 0
antara
Pariwisata Bali (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Pariwisata dinilai mampu mengentaskan kemiskinan terutama di negara-negara berkembang. Namun, hal itu hanya dapat dilakukan jika pariwisata mampu memberdayakan masyarakat lokal.

Jumlah wisatawan internasional mencapai satu miliar pada 2012. Hal itu berarti ada banyak uang yang terlibat dalam industri tersebut. Menurut Organisasi Pariwisata Dunia PBB, sektor ini mencetak 5 persen dari Produk Domestik Bruto dan menyumbang satu dari 12 pekerjaan di seluruh dunia.

Pariwisata juga menjadi pendapatan ekspor pertama 20 dari 48 negara berkembang termasuk Tanzania dan Samoa. "Pariwisata membuat transfer terbesar di dunia untuk sumber daya dari kaya ke miskin, mengkerdilkan bantuan internasional, " ujar CEO dari Yayasan Travel, Salli Felton, dilansir BBC.

Namun, kenyataannya tidak semudah teori. Kebanyakan uang dari industri pariwisata dihabiskan di resor milik asing atau operator tour, bukannya pada wilayah miskin yang biasanya menjadi tujuan wisatawan. "Negara-negara berkembang sering juga mengimpor peralatan dan makanan dari luar negeri untuk memenuhi harapan dan standar turis, " ujar Felton.

Untuk mengentaskan kemiskinan, pelaku besar dalam industri pariwisata dinilai harus terlibat aktif. Hotel besar dinilai harus memiliki kesadaran yang lebih besar untuk menciptakan lapangan kerja. "Seharusnya ada perhatian lebih untuk mendidik dan mentoring pemuda sehingga mereka dapat bekerja dalam lingkungan profesional, " ujarnya.

Reporter : Nur Aini
Redaktur : Dewi Mardiani
838 reads
Hati orang yang sudah tua dapat menjadi lupa akan usianya bila ia terlalu mencintai hidup dan harta bendanya(HR Muslim)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
Silahkan login atau register untuk kirim komentar Anda

Berita Lainnya

Defisit Perdagangan Jepang Belum Membaik