REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Duta Besar Rusia untuk Indonesia Mikhail Y. Galuzin mengatakan negaranya ingin meningkatkan hubungan dengan negara-negara di kawasan Asia Pasifik dalam rangka memelihara stabilitas di kawasan.
"Sebagai bagian dari kebijakan luar negeri yang baru, Rusia juga sedang meningkatkan kehadirannya di kawasan (Asia Pasifik), melalui integrasi ekonomi serta perluasan hubungan kebudayaan dan dialog dengan negara-negara di kawasan," kata Dubes Galuzin, dalam pemaparan tentang Kebijakan Luar Negeri Rusia yang baru di Jakarta, Selasa (19/3).
Konsep Kebijakan Luar Negeri tersebut telah disahkan oleh Presiden Rusia, Vladimir Putin, pada 12 Februari 2013 lalu. Kebijakan itu diciptakan untuk menjawab tantangan perubahan yang terjadi di dunia
Seiring perkembangan situasi geopolitik global dan krisis ekonomi yang belakangan terjadi, Rusia mencoba melihat perspektif hubungan internasional saat ini tengah berada di masa transisi.
"Esensinya adalah seperti yang terlihat dalam sistem internasional yang polisentris," kata Gazulin.
Gazulin mengatakan era aliansi militer dan blok politik yang berlangsung pada masa lalu, tidak lagi relevan dalam menangkal berbagai tantangan dan ancaman lintas perbatasan modern saat ini seperti proliferasi senjata pemusnah massal, terorisme internasional, perdagangan senjata ilegal, penyelundupan narkoba, serta radikalisasi sentimen publik.
Di wilayah Asia Pasifik sendiri, kata Gazulin, Rusia melihat masih adanya potensi konflik yang signifikan serta peningkatan jumlah senjata militer dan ancaman dari senjata pemusnah massal yang semakin memprihatinkan.
"Kami menilai perlunya ada sebuah jaringan kemitraan di Asia Pasifik, seperti misalnya mekanisme East Asian Summit yang merupakan format dasar untuk dialog para pemimpin terkait berbagai aspek keamanan dan kerja sama di kawasan," katanya.