Sabtu, 11 Jumadil Awwal 1434 / 23 Maret 2013
find us on : 
  Login |  Register

Rakyat AS Terpecah Soal Invasi Irak

Selasa, 19 Maret 2013, 20:24 WIB
Komentar : 0
Bendera AS

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Satu dasawarsa sesudah serbuan pimpinan Amerika Serikat terhadap Irak, rakyat negara adidaya itu masih terpecah atas perang tersebut. Sebagian besar mempercayainya sebagai kesalahan.

Jajak pendapat Gallup, yang pertama sejak pasukan Amerika Serikat mundur dari Irak pada Desember 2011, menunjukkan rakyat negara adidaya itu masih terpecah atas perang tersebut.

Sebanyak 53 persen menyatakan menyesali keputusan menyerang itu. Sementara, sebanyak 42 persen menyebutnya bukan kesalahan. Jajak pendapat itu menunjukkan sedikit perubahan dalam pendapat umum sejak survai pada 2009.

Penentangan warga AS terhadap invasi Irak memuncak pada April 2008. Sebanyak 63 persen menyatakan serbuan tersebut adalah kesalahan.

Responden yang dikenali atau terkait dengan partai Republik itu 66 persen menyatakan perang bukan kesalahan. Tapi, sebanyak 73 persen di kalangan Demokrat menyatakan serbuan ke Irak adalah kesalahan.

Jajak pendapat Gallup didasarkan atas wawancara telepon dengan 1.022 orang dewasa pada 7-10 Maret. Tingkat kesalahan lebih kurang empat persen.

Pemerintahan George W Bush melancarkan serbuan ke Irak dengan alasan Presiden Saddam Hussein memiliki senjata pemusnah massal dan perlu dilucuti. Senjata pemusnah seperti itu tidak pernah ditemukan.

Redaktur : Didi Purwadi
Sumber : Antara/AFP
898 reads
Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.(QS At Taubah ( 9:20))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
Silahkan login atau register untuk kirim komentar Anda

Berita Lainnya

Presiden Argentina Ingin Paus Mediasi Konflik Malvinas