REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Amerika Serikat (AS) membatalkan pembangunan pembangunan situs pertahanan di Benua Eropa.
Menteri Pertahanan Chuck Hagel mengatakan krisis di Semenanjung Korea adalah alasan utama pembatalan tersebut.
Hagel mengumumkan pembatalan tersebut Jumat (15/3), dan menolak anggapan tekanan dari Rusia. Times melansir pembangunan situs berdana besar itu adalah proyek pertahanan sejak Presiden George Bush junior.
AS mendapat lampu hijau dari negara seperti Polandia untuk menjadi titik pertahanan anti rudal menuju AS. Antirudal SM-3 IIB siap ditanamkan di beberapa tempat, termasuk pembangunan radar militer AS di Republik Ceko.
AS juga mendapat persetujuan dari Pemerintah Romania untuk penempatan antirudal serupa pada 2015 mendatang. Akan tetapi semua rencana itu mendapat tentangan keras dari Rusia. Moskow menilai rencana itu adalah ancaman.
Rusia kerap menjegal rencana itu melalui keengganan Moskow membicarakan program nuklir Rusia. Hubungan diplomatik Kremlin dan Gedung Putih-pun dingin hingga sekarang. Moskow berharap banyak dengan transisi politik di era pertama Presiden Barack Obama dapat meningkatkan hubungan.
Namun lima tahun berlalu, Presiden Obama dan Presiden Vladimir Putin tidak pernah membahas persoalan tersebut. Rusia semakin berang saat Pakta Pertahan Atlantik Utara (NATO) menjejerkan sistem anti rudal di sepanjang perbatasan Turki dan Suriah pada 2012 lalu.
AS memanfaatkan antirudal tersebut sebagai sistem pertahanan dini dari ancaman yang datang dari laut Mediterania.Hagel mengungkapkan, semula situs pertahanan di Eropa Timur itu untuk mencegat ancaman dari Korea Utara dan Iran. Namun pengkajian ulang mendesak adanya restrukturisasi.
Kata dia, perencanaan ulang kali ini mempercayakan Negara Bagian Alaska sebagai titik strategis pertahanan.Pentagon menggelontorkan dana tidak kurang dari 1 miliar dolar untuk batrai pencegat rudal.
Sejumlah 26 baterai sudah tertanam sejak lama di Alaska. Pentagon menambah jumlah tersebut menjadi 40 titik pencegat rudal.Sistem pertahanan tersebut ditanam menjawab gertakan Korea Utara berapa waktu lalu.
Krisis di Semenanjung Korea yang mulai memuncak diakui Pentagon sebagai ancaman dan mencemaskan. Afiliasai politik antara AS dan Korea Selatan, membuat Washington menjadi sasaran kemarahan rezim di Pyongyang.
Bulan lalu secara terbuka Korut mengancam akan menghujani daratan AS dengan bom atom.