Sabtu, 11 Jumadil Awwal 1434 / 23 Maret 2013
find us on : 
  Login |  Register

Iran Kecam Sanksi Baru AS

Senin, 17 Desember 2012, 09:31 WIB
Komentar : 0
politico.ie
Bendera Iran/ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Anggota Parlemen Iran mengecam tindakan Amerika Serikat yang menjatuhkan sanksi baru terhadap tujuh perusahaan dan lima orang Iran. Sanksi itu mereka sebut tidak sesuai dengan pendekatan diplomasi AS dalam menyelesaikan sengketa nuklir Iran.

Departemen Luar Negeri dan Keuangan AS menuduh perusahaan dan orang-orang tersebut "menyediakan pemerintah Iran teknologi, layanan dan barang yang dapat meningkatkan kemampuan rejim memperkaya uranium.

Mohammad-Hassan Asafari, anggota Komisi Kebijakan Luar Negeri dan Keamanan Nasional Majelis (Parlemen) Iran, mengatakan sanksi baru tersebut --yang dijatuhkan oleh Amerika Serikat atas Iran sehubungan dengan program nuklir Teheran-- akan gagal.

"Sanksi atas tujuh perusahaan dan lima orang lagi itu ... melanggar hak asasi manusia dan bertentangan dengan peraturan internasional," kata Asafari sebagaimana dikutip.

Ia mengatakan babak baru sanksi AS tersebut memperlihatkan pertentangan dalam sikap dan prilaku para pejabat negara itu.
Para pejabat AS berbicara mengenai penyelenggaraan pembicaraan dengan Teheran, sementara mereka memberlakukan sanksi lebih keras terhadap Republik Islam tersebut, kata Asafari.

Ia menekan tindakan semacam itu akan gagal membuahkan hasil. Sanksi tersebut menunjukkan "sifat menggertak" para pejabat AS, katanya. Ditambahkannya, pemerintah AS selalu berusaha menerapkan sikap ganda ke arah negara lain.

Redaktur : Hazliansyah
Sumber : Antara/Xinhua-Oana
3.359 reads
Mereka bertanya, "Ya Rasulullah, apakah kami berobat?" Beliau menjawab, "Ya, wahai hamba-hamba Allah. Sesungguhnya Allah meletakkan penyakit dan diletakkan pula penyembuhannya, kecuali satu penyakit yaitu penyakit ketuaan (pikun)".((HR. Ashabussunnah))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
  ben Selasa, 18 Desember 2012, 13:18
Iran selalu ngaku terhebat dan terbenar. Silahkan selesaikan masalah dengan cara arab. Arab adalah bangsa haus darah... saudara sendiri dibabat demi ambisi, agama, kuasa dan lain lain...
Silahkan login atau register untuk kirim komentar Anda