Jumat, 27 Safar 1436 / 19 Desember 2014
find us on : 
  Login |  Register

Ternyata Amerika & Eropa Paling Intoleran

Jumat, 21 September 2012, 08:00 WIB
Komentar : 8
REUTERS
Umat Muslim, Kristen dan Yahudi berjalan bersama dalam diam memprotes pembunuhan di Toulose, kota simbol toleransi di Prancis. Toleransi adalah sikap yang sangat dianjurkan Nabi Muhammad.
Umat Muslim, Kristen dan Yahudi berjalan bersama dalam diam memprotes pembunuhan di Toulose, kota simbol toleransi di Prancis. Toleransi adalah sikap yang sangat dianjurkan Nabi Muhammad.

REPUBLIKA.CO.ID,NEW YORK -- Sebuah lembaga riset, Pew Research Centre, menyatakan Amerika Serikat (AS), Inggris dan Rusia adalah beberapa negara di dunia dengan tingkat diskriminatif yang tinggi terhadap pemeluk agama dan perbedaan agama.

Lembaga yang berbasis di New York Amerika Serikat ini menilai di negara tersebut, 'permusuhan sosial' sudah masuk dalam tahap 'mengkhawatirkan'. Pew juga menyatakan tiga perempat dari tujuh miliar populasi manusia di dunia, hidup dibawah kontrol pemerintah dalam urusan agama.

Hasil survei yang dirilis dalam laman The Guardian pada Kamis (20/9) itu berjudul 'The Rising Tide of Restrictions on Religion'. Dalam surveinya sejak empat tahun terakhir ini, kebijakan pemerintah di negara tersebut dalam membatasi agama meningkat menjadi enam persen.

Lembaga itu menggambarkan bagaimana pemerintah di negara-negara tersebut mengatur ibadah dan praktik keagamaan. Dan hal ini memicu tindak kejahatan yang berbahaya terhadap sala satu ajaran agama tertentu. 

Dalam survei ini, Inggris adalah negara dengan tingkat yang tinggi (dalam skala sangat tinggi, tinggi, moderat, dan rendah) terkait dengan permusuhan sosial, yang dijadikan salah satu indeks untuk mengukur tingkat intoleransi disuatu negara. Menurut laporan tersebut Inggris tidak lebih baik dari Kenya, namun tidak separah Burma (Myanmar). Hanya saja Inggris adalah negara intoleran ke dua setelah Rusia, yang sangat tinggi nilai intoleransinya terhadap agama.

Peniliti Utama dalam survei ini, Brian Grim menjelaskan tingginya tingkat permusuhan sosial yang mendorong perilaku intoleran di Inggris diyakininya karena adanya beberapa faktor. Faktor tersebut diantaranya adalah kampanye masyarakat Kristen yang menyuarakan keprihatinan mereka terhadap diaspora muslim, dan lonjakan anti semit di Inggris. "Itu juga termasuk kekhawatiran tentang pembiasan makna jihad,'' ujar Brian.

Menariknya, di AS, justru ini yang pertama, pemerintahnya memberlakukan peningkatan intoleransi dan pembatasan terhadap kultur beragama.  Walau masih dalam ukuran moderat, tetapi dari survei tersebut menyebutkan sikap permusuhan dan intoleransi meningkat pada masyarakat dan pemerintah di AS

Reporter : bambang noroyono
Redaktur : M Irwan Ariefyanto
Celaka bagi orang yang bercerita kepada satu kaum tentang kisah bohong dengan maksud agar mereka tertawa. Celakalah dia...celaka dia. ((HR. Abu Dawud dan Ahmad))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Andien Lebih Ngepop di Album Baru
JAKARTA --  Andien meluncurkan album keenamnya, "Let It Be My Way". Di album teranyarnya ini, Andien coba menyuguhkan alunan musik yang berbeda dari...