Selasa, 7 Zulqaidah 1435 / 02 September 2014
find us on : 
  Login |  Register

Muslim Rohingya Dibantai, OHCHR: Militer Myanmar Terlibat

Minggu, 29 Juli 2012, 05:27 WIB
Komentar : 4
Reuters/Damir Sagolj
Muslims hold pictures and banners as they protest in front of Myanmar's embassy in Bangkok in June. A group of Rohingyas living in Thailand and other Muslims gathered outside the embassy demanding security for Myanmar's Rohingya people and called for inter
Muslims hold pictures and banners as they protest in front of Myanmar's embassy in Bangkok in June. A group of Rohingyas living in Thailand and other Muslims gathered outside the embassy demanding security for Myanmar's Rohingya people and called for inter

REPUBLIKA.CO.ID,  JENEWA -- Badan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa Bangsa (OHCHR) menuding pasukan keamanan Myanmar berada di balik upaya penghapusan entis terhadap Muslim Rohingya.

OHCHR mendesak dilakukannya penyelidikan khusus dan independen terhadap dugaan upaya genosida Muslim Rohingya, di Negara Bagian Rakhine, Myanmar.


"Kami menerima aliran informasi dari segala sumber independen, bahwa perilaku diskriminatif dan kesewenang-wenangan oleh militer Myanmar terhadap Muslim Rohingya," kata Kepala OHCHR, Navi Pillay, seperti dikutip dari kantor berita Aljazeera dan BBC.

Kata dia, semula militer mengetahui telah terjadi konflik komunal yang melibatkan warga etnis Buddha Arakan dan etnis Muslim Rohingya di bagian utara negara junta militer tersebut.

Tapi, tuding dia,  militer yang semestinya menghentikan pertikaian, berujung dengan keterlibatan, bahkan melakukan penghasutan. ''Laporan menunjukkann kewenangan militer telah berubah dengan menjadikan Rohingya sebagai target kekerasan," ujar dia.

Pillay menyambut baik desakan internasional terhadap Pemerintah Myanmar, agar relawan internasional diberikan akses untuk melakukan pemantauan, dan pengawasan.

Kata dia, tim investigasi PBB yang dikepalai Tomas Ojea Quintana akan terbang ke Rakhine, untuk melakukan pemetaan konflik, 30 Juli sampai 4 Agustus mendatang.
''Penting untuk korban, dan masyarakat di Rakhine agar dapat memberikan kesaksian secara bebas tanpa tekanan," tegas dia.

Pelaksana Tugas Sosial Politik, dan Budaya, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI), Djumara Supriyadi, di Yangoon, Myanmar mengabarkan kepada Republika, tak kurang dari 700 ribu etnis Muslim Rohingya telah mengungsi, akibat kerusuhan komunal yang menewaskan 78 orang pada  8 - 13 Juni lalu di Rakhine. 

Mereka tinggal di kamp pengungsian dengan pengawasan untuk keamanan. "Pengungsi belum berani untuk melihat kondisi rumah mereka," kata Djumara, Jumat (27/7).

Reporter : Bambang Noroyono
Redaktur : Heri Ruslan
Sumber : aljazeera/bbc
Sesungguhnya seorang pemimpin itu merupakan perisai, rakyat akan berperang di belakang serta berlindung dengannya. Bila ia memerintah untuk takwa kepada Allah azza wa jalla serta bertindak adil, maka ia akan memperoleh pahala. Namun bila ia memerintah dengan selainnya, maka ia akan mendapatkan akibatnya.(HR Muslim)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar