Thursday, 26 Safar 1436 / 18 December 2014
find us on : 
  Login |  Register

Reformasi Politik Myanmar, Berkah Bagi Coca-Cola

Friday, 15 June 2012, 08:51 WIB
Komentar : 3
Coca Cola
Coca Cola

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Coca-Cola mengumumkan akan kembali masuk ke Myanmar setelah sempat terhenti lebih dari enam dasawarsa atau 60 tahun.

Minuman bersoda asal Amerika Serikat (AS) itu sempat diboikot Kuba, Myanmar dan Korea Utara karena dianggap sebagai ikon negeri Paman Sam.

Reformasi politik yang terjadi di Myanmar menjadi berkah bagi Coca-Cola Co.

Perusahaan yang berbasis di Atlanta ini, mengatakan, pada tahap awal akan mengirimkan Coke dari negara tetangga ke Myanmar, tetapi Coca-Cola memutuskan akan mencari mitra lokal.

Coca-Cola.co akan menciptakan "investasi yang signifikan" di Myanmar selama tiga sampai lima tahun ke depan.

"Coca-Cola Co. selalu berdiri untuk optimisme pada saat perubahan dan kemajuan di seluruh dunia," kata pimpinan dan CEO Muhtar Kent dalam sebuah pernyataan, Kamis (14/6).

Coca-Cola mengatakan, pihaknya akan mematuhi standar etika, termasuk menghormati hak asasi manusia dan tidak membayar suap.

The Coca-Cola Foundation, sebuah badan amal yang berafiliasi dengan perusahaan, mengatakan bahwa mereka akan memberikan tiga juta dolar AS untuk mendukung inisiatif kerja yang memberdayakan perempuan di Myanmar.

Coca-Cola mengatakan bahwa pihaknya tidak melakukan bisnis di Myanmar selama lebih dari 60 tahun, setelah Junta Militer mengambil alih kendali negara itu pada 1962.


Redaktur : Heri Ruslan
Sumber : antara
Tahukah engkau apa yang menghancurkan Islam?” Ia (Ziyad) berkata, aku menjawab, “Tidak tahu.” Umar bin Khattab RA berkata, “Yang menghancurkan Islam adalah penyimpangan orang berilmu, bantahan orang munafik terhadap Alquran, dan hukum (keputusan) para pemimpin yang menyesatkan.”(Riwayat Ad-Darimi, dan berkata Syaikh Husain Asad: isnadnya shahih))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Ratusan WNI Gabung ISIS, BNPT Sulit Lakukan Pendataan, Mengapa?
JAKARTA -- Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Indonesia (BNPT) memperkirakan ratusan warga negara Indonesia (WNI) telah bergabung dengan kelompok ISIS di Suriah dan Irak. Namun...