Minggu, 2 Muharram 1436 / 26 Oktober 2014
find us on : 
  Login |  Register

Dua Kelompok Pemberontak Mali Bentuk Negara Islam

Minggu, 27 Mei 2012, 11:11 WIB
Komentar : 1
AP
Pemimpin pemberontak Mali, Amadou Sanogo.
Pemimpin pemberontak Mali, Amadou Sanogo.

REPUBLIKA.CO.ID, BAMAKO - Dua kelompok pemberontak yang menguasai setengah wilayah utara Mali akhirnya memutuskan untuk bersatu. Mereka mengumumkan hal itu, Sabtu (26/5).

Mereka akan bekerja bersama membangun negara Islam merdeka di wilayah yang mereka kuasai. Salah satu pemimpin kelompok Ansar Dine, Alghabass Ag Intalla, telah mengonfirmasi bahwa kelompoknya bergabung dengan Gerakan Nasional untuk Pembebasan Azawad (NMLA).

Ansar Dine adalah kelompok yang memperjuangkan dibuatnya negara Islam. NMLA adalah kelompok pemberontak sekuler yang dipimpin separatis Tuareg. Kedua kelompok menandatangani kesepakatan di utara Kota Gao. Tembakan perayaan membahana di Gao dan Timbuktu.

"Saya telah menandatangani persetujuan untuk membangun negara Islam dan merdeka di mana kami akan menerapkan hukum Islam," ujar Ag Intalla.

Kesepakatan tersebut menandakan perubahan yang mengkhawatirkan di Mali. Ansar Dine diketahui berhubungan dengan Alqaeda di Islamic Maghreb dan berafiliasidi dengan Alqaeda di Afrika. Kelompok itu bertanggung jawab atas berbagai serangan bunuh diri dan penculikan warga asing.

Dua kelompok tersebut menguasai wilayah utara Mali yang luasnya setara dengan Perancis pada akhir Maret. Tindakan itu memaksa pasukan pemerintah Mali terbang ke selatan.

Sebelumnya, Ansar Dine dan NMLA tidak bersepakat atas penerapan hukum Islam. Ansar Dine juga sempat menolak tujuan NMLA membentuk negara sendiri bagi Tuareg.

Di kota terakhir yang direbut kelompok pemberontak, Timbuktu, NMLA mengambil alih bandara lokal. Sedangkan, Ansar Dine berhasil merebut kamp militer di pusat kota.

Kedua kelompok mempunyai bendera masing-masing. Para saksi mata melaporkan melihat salah satu kelompok menaikkan benderanya di gedung-gedung pemerintahan dan kediaman gubernur.

Kesepakatan antara dua kelompok itu memungkinkan mereka mencapai tujuan dan menggabungkan kekuatan. Setelah kudeta pada 21 Maret, pasukan keamanan Mali terpecah dan tidak memiliki motivasi mempertahankan negara.

Pemerintahan transisi mengatakan akan merebut kembali wilayah utara. Namun, sejauh ini faksi di Bamako terlalu sibuk berdebat mengenai siapa yang akan memimpin transisi daripada memikirkan persoalan di utara.

Reporter : Ani Nursalikah
Redaktur : Djibril Muhammad
Sumber : AP
Barang siapa yang mentaatiku berarti ia telah mentaati Allah, dan barang siapa yang mendurhakai perintahku, maka berarti ia telah mendurhakai Allah. Barang siapa yang mematuhi pemimpin berarti ia telah mematuhiku dan barang siapa yang mendurhakai pemimpin berarti ia telah mendurhakaiku(HR Muslim)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Doyan Minum Soda Tampak Lebih Tua?
SAN FRANSISCO -- Sebuah studi menemukan minuman bersoda dapat membuat sel-sel tertentu dalam tubuh menua lebih cepat. Peneliti University of California, San Fransisco menyimpulkan...