Sunday, 2 Muharram 1436 / 26 October 2014
find us on : 
  Login |  Register

Disindir Hillary Clinton, Menteri-Menteri Israel Sewot

Monday, 05 December 2011, 10:16 WIB
Komentar : 1
AP
Menteri Luar Negeri AS, Hillary Rodham Clinton.
Menteri Luar Negeri AS, Hillary Rodham Clinton.

REPUBLIKA.CO.ID, JERUSALEM - Para menteri Israel, Ahad (4/12),   marah setelah Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton mengatakan ia mengkhawatirkan masa depan demokrasi dan HAM kaum hawa di Israel.

Anggota parlemen Israel, terutama anggota pemerintah sayap-kanan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, dalam beberapa bulan belakangan telah memelopori serangkaian rancangan undang-undang yang dikecam oleh kelompok hak asasi lokal sebagai upaya untuk mengendalikan wartawan dan organisasi nonpemerintah yang condong ke kiri.

Di antara usul peraturan yang paling kontroversial ialah yang akan membatasi dana asing buat organisasi tertentu nonpemerintah --peraturan yang dikatakan para pegiat sayap kiri ditujukan kepada kelompok yang menentang pendudukan Israel dan melaporkan pelanggaran hak asasi orang Palestina.

Seorang pejabat senior Departemen Luar Negeri, yang berbicara kepada wartawan tanpa menyebutkan jatidirinya, mengkonfirmasi Hillary Clinton "prihatin mengenai peraturan tentang organisasi nonpemerintah dan "komentar tokoh konservatif Israel mengenai perempuan" tersebut .

Pernyataan Hillary, yang dilaporkan disampaikan dalam pertemuan tertutup Forum Saban di Washington pada Sabtu (3/12), menjadi berita utama di sebagian besar surat kabar Israel.

Harian papan atas Israel, Yediot Aharonot, menyatakan Hillary menggambarkan ia terkejut saat mendengar bahwa sebagian bus di Jerusalem menerapkan pemisahan gender dan sebagian tentara agama Israel menolak untuk menghadiri kegiatan yang menampilkan perempuan menyanyi.

Komentar tersebut memicu reaksi cepat di Jerusalem, tempat para menteri Israel yang mengadakan pertemuan mingguan kabinet menuduh Hillary berlebihan.

Menteri Keuangan Yuval Steinitz menyebut pernyataan Hillary "benar-benar dibesar-besarkan", demikian laporan media Israel. "Israel adalah demokrasi yang hidup dan bernafas liberal," katanya.

Steinitz dilaporkan mengakui pemisahan gender adalah masalah di Israel, "tapi untuk menyatakan ada ancaman terhadap demokrasi Israel adalah tindakan yang terlalu dibesar-besarkan".

Menteri Lingkungan Hidup Israel Gilad Erdan juga mengakui sebagian keprihatinan mengenai seruan yang bertambah bagi pemisahan gender oleh masyarakat ultra ortodoks Israel, tapi menyarankan Hillary agar perhatiannya ke tempat lain. "Para pejabat pemilihan di seluruh dunia mesti mula-mula mengkhawatirkan masalah di dalam negeri mereka," katanya.

Menteri Dalam Negeri Eli Yishai dari partai ultra-ortodoks Shas, membela negara Yahudi tersebut, dan menyatakan Israel tetap menjadi "satu-satunya demokrasi di Timur Tengah".

Redaktur : Stevy Maradona
Sumber : Antara
Tahukah engkau apa yang menghancurkan Islam?” Ia (Ziyad) berkata, aku menjawab, “Tidak tahu.” Umar bin Khattab RA berkata, “Yang menghancurkan Islam adalah penyimpangan orang berilmu, bantahan orang munafik terhadap Alquran, dan hukum (keputusan) para pemimpin yang menyesatkan.”(Riwayat Ad-Darimi, dan berkata Syaikh Husain Asad: isnadnya shahih))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Doyan Minum Soda Tampak Lebih Tua?
SAN FRANSISCO -- Sebuah studi menemukan minuman bersoda dapat membuat sel-sel tertentu dalam tubuh menua lebih cepat. Peneliti University of California, San Fransisco menyimpulkan...