Friday, 4 Sya'ban 1439 / 20 April 2018

Friday, 4 Sya'ban 1439 / 20 April 2018

Presiden Jerman: Jangan Anggap Rusia Sebagai Musuh

Senin 16 April 2018 14:32 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Nur Aini

Mantan agen intelijen Rusia Sergey Skripal.

Mantan agen intelijen Rusia Sergey Skripal.

Foto: Kommersant/Yuri Senatorov via Reuters
Konsekuensi insiden penyerangan terhadap Skripal dinilai meluas.

REPUBLIKA.CO.ID, BERLIN -- Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier meminta negara-negara Barat tidak memandang Rusia sebagai musuh. Hal itu ia ungkapkan merespons ketegangan yang melibatkan Rusia di dalamnya.

"Kita seharusnya tidak menunjuk Rusia secara umum, negara dan rakyatnya, sebagai musuh," katanya dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Bild am Sontag yang diterbitkan pada Ahad (15/4), dikutip laman kantor berita Rusia TASS.

Ia secara khusus menyoroti perihal insiden penyerangan Sergei Skripal dan putrinya Yulia Skripal di Salisbury, Inggris, pada awal Maret lalu. Kejadian tersebut diketahui telah memicu krisis diplomatik antara Rusia dengan Inggris beserta sekutunya.

"Di sisi lain, kita harus sama-sama prihatin tentang alienasi yang tumbuh dengan cepat antara Rusia dan Barat, dengan konsekuensi yang akan jauh melampaui ruang lingkup insiden itu (penyerangan Skripal)," ujar Steinmeier.

Menurutnya, situasi itu menjadi tantangan bagi para politisi yang bertanggung jawab. "Namun kita tidak boleh menyerah untuk melakukannya melalui dialog langsung," ucapnya.

Kasus penyerangan Sergei Skripal (66 tahun) dan putrinya Yulia (33 tahun) telah memicu krisis diplomatik Inggris dengan Rusia. Skripal merupakan warga Inggris yang pernah menjadi agen intelijen militer Rusia. Ia dan putrinya diserang menggunakan agen saraf kelas militer bernama Novichok pada 4 Maret lalu. Kendati sempat kritis, keduanya berhasil selamat dari efek serangan tersebut.

Inggris pun menuding Rusia menjadi dalang aksi penyerangan Skripal. Tuduhan itu didasarkan pada fakta bahwa agen saraf novichok pernah dikembangkan pada era Uni Soviet pada tahun 1970-an. Rusia membantah tegas tudingan tersebut.

Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan negaranya tidak lagi memiliki senjata kimia. Semua senjata kimia milik Rusia, kata Putin, telah dihancurkan di bawah pengawasan organisasi internasional.

Ketika aksi saling tuding masih berlangsung, Perdana Menteri Inggris Theresa May, pada 15 Maret lalu, memutuskan mengusir 23 diplomat Rusia dari negaranya. May mengklaim 23 diplomat yang diusirnya merupakan agen mata-mata Rusia yang menyamar.

Rusia membalas hal tersebut dengan melakukan hal serupa. Moskow mengusir 23 diplomat Inggris dan menghentikan seluruh kegiatan British Council di Rusia.

Setidaknya terdapat 20 negara Uni Eropa yang memberi dukungan kepada Inggris dengan cara mengusir diplomat Rusia dari negaranya masing-masing. Hingga saat ini lebih dari 150 diplomat Rusia telah terusir dari Inggris dan negara-negara sekutunya.

Baca juga: AS akan Jatuhkan Sanksi Baru untuk Rusia

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES