Jumat, 4 Sya'ban 1439 / 20 April 2018

Jumat, 4 Sya'ban 1439 / 20 April 2018

Berselisih dengan Banyak Negara, Putin: Dunia Sedang Kacau

Kamis 12 April 2018 01:16 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Nur Aini

Vladimir Putin

Vladimir Putin

Foto: EPA/Sergei Chirikov
Hubungan internasional saat ini sedang keruh.

REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW -- Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan situasi dunia saat ini sedang kacau. Hal itu ia utarakan saat menerima para duta besar asing di Moskow pada Rabu (11/4).

Kendati tidak mengacu pada konflik tertentu, Putin mengakui tentang keruhnya hubungan internasional saat ini. "Situasi di dunia menjadi semakin kacau. Namun demikian, kami berharap bahwa akal sehat akhirnya akan menang dan hubungan internasional akan kembali ke jalur yang konstruktif, lalu sistem global akan menjadi lebih stabil dan dapat diprediksi," kata Putin, dilaporkan laman kantor berita Rusia TASS.

Di hadapan para duta besar asing, Putin mengungkapkan tentang pentingnya peran diplomat. "Hari ini peran diplomasi dan diplomat sangat penting. Diplomasi memiliki lingkup kerja yang baik yang ditujukan untuk mengembangkan solusi optimal yang bergantung pada keseimbangan berbagai kepentingan," ucapnya.

Menurut Putin peran diplomat diperlukan untuk menjawab tantangan-tantangan global saat ini, mencakup terorisme, perdagangan narkoba, perubahan iklim, dan proliferasi senjata pemusnah massal. Ia menyebut Rusia akan mencoba menghadapi tantangan-tantangan tersebut.

"Rusia akan terus secara konsisten berkomitmen untuk memperkuat keamanan dan stabilitas global serta regional dan sepenuhnya mematuhi kewajiban internasionalnya, membangun kerja sama konstruktif dengan para mitra berdasarkan pada penghormatan yang bergantung pada norma-norma hukum internasional dan Piagam PBB," kata Putin menerangkan.

Saat ini Rusia diketahui tengah terlibat perselisihan dengan beberapa negara Barat terkait isu Suriah dan penyerangan Sergei Skripal. Di Suriah, Rusia yang menjadi sekutu utama Presiden Bashar al-Assad tengah bersiap menghadapi opsi militer yang hendak diambil Amerika Serikat (AS) dan para sekutunya. Opsi militer ini berkaitan dengan serangan gas beracun di Douma, Ghouta Timur, pekan lalu.

Rezim Assad dituduh sebagai pihak yang bertanggung jawab atas serangan di Douma. Namun hal ini telah dibantah oleh pemerintah Suriah dan Rusia. Selain perihal Suriah, Rusia juga tengah berselisih dengan AS, Inggris, dan beberapa negara Eropa lainnya akibat kasus penyerangan Sergei Skripal. Skripal merupakan warga Inggris yang pernah menjadi agen mata-mata Rusia. Ia dan putrinya Yulia diserang dengan menggunakan agen saraf novichok di Salisbury, Inggris, awal Maret lalu.

Inggris menuding pemerintah Rusia menjadi aktor di balik aksi penyerangan tersebut. Tuduhan itu pun dibantah. Putin menegaskan negaranya tak lagi memiliki senjata kimia karena seluruhnya telah dimusnahkan di bawah pengawasan Organisasi Larangan Senjata Kimia (OPCW).

Namun sangkalan Putin tak memberi pengaruh apa pun. Perdana Menteri Inggris Theresa May memutuskan mengusir 23 diplomat Rusia dari negaranya. May menuding mereka sebagai mata-mata yang menyamar sebagai diplomat.

Aksi pengusiran tersebut segera dibalas oleh Rusia. Selain mengusir 23 diplomat Inggris, Rusia juga menghentikan segala aktivitas British Council di negaranya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES