Saturday, 5 Sya'ban 1439 / 21 April 2018

Saturday, 5 Sya'ban 1439 / 21 April 2018

Hari Ketiga, Kapal Tanker Iran di Cina Masih Terbakar

Selasa 09 January 2018 13:32 WIB

Rep: Crystal Liestia Purnama/ Red: Ani Nursalikah

Kapal tanker Sanchi masih mengeluarkan asap tebal karena terbakar setelah bertabrakan dengan kapal Cina.

Kapal tanker Sanchi masih mengeluarkan asap tebal karena terbakar setelah bertabrakan dengan kapal Cina.

Foto: CCTV via AP Video

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Kapal tanker yang membawa minyak dari Iran yang bertabrakan dengan kapal pengangkut barang Cina di Laut Cina Timur masih terbakar sampai Selasa (9/1) pagi waktu setempat. Pemerintah Cina melaporkan hal tersebut saat puluhan kapal penyelamat berjuang mengendalikan api tersebut hingga hari ketiga setelah kecelakaan.

Kondisi yang buruk dengan angin kencang, hujan dan ombak yang tinggi terus menghambat upaya tim penyelamat menjinakkan api. Sebanyak 31 awak kapal tanker tersebut belum ditemukan.

Jenazah salah satu anggota awak kapal telah ditemukan pada Senin di perairan dekat kapal tanker tersebut. Jenazahnya telah diserahkan ke biro urusan sipil, menurut pernyataan dari Kementerian Perhubungan.

Kapal tanker tersebut menabrak kapal kargo pada Sabtu malam di Laut Cina timur dan terbakar setelah menumpahkan minyak. Dikhawatirkan kapal tanker itu meledak dan tenggelam. Sebanyak 13 kapal penyelamat masih menyisir area seluas 900 meter persegi di sekitar kapal untuk mencari awak kapal yang belum ditemukan.

Kapal tanker Sanchi (IMO:9356608) yang dijalankan oleh operator layanan minyak Iran, National Iranian Tanker Co, bertabrakan dengan CF Crystal (IMO: 9497050) yang membawa gandum dari Amerika Serikat (AS), sekitar 160 mil di lepas pantai Cina dekat Shanghai dan mulut Delta Sungai Yangtze. Sanchi membawa 136 ribu ton kondensat, minyak mentah ultra-ringan yang sangat mudah menguap saat terkena udara dan air ke Korea Selatan (Korsel).

Ukuran tumpahan minyak dari kapal dan tingkat kerusakan lingkungan tidak diketahui. Namun bencana tersebut berpotensi menjadi terburuk sejak 1991 ketika 260 ribu ton minyak bocor di lepas pantai Angola.

Sumber : Reuters
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA