Kebijakan menambah jumlah warga negara tak sepenuhnya berjalan mulus. Awal bulan ini, sedikitnya 4.000 orang melakukan aksi unjuk rasa--salah satu demonstrasi terbesar di Singapura yang pernah terjadi--memprotes porposal White Paper on Population.
Mereka beranggapan negara pulau ini sudah terlalu ramai, dengan kepadatan populasi melebihi pusat bisnis pesaing mereka di Asia, Hong Kong. Banjir pekerja asing satu dekade terakhir disebut-sebut sebagai pemicunya.
"Anda tidak bisa membawa orang asing untuk bersaing dengan orang-orang Anda ketika Anda tak melakukan apa pun untuk memberdayakan warga Anda sendiri," kata Leong Sze Hian, seorang perencana keuangan. Ia menyalahkan kebijakan kelonggaran imigrasi.
"Tak hanya warga berpenghasilan rendah yang akan menderita. Kelas menengahpun akan terpengaruh." Tan Kin Lian, mantan CEO perusahaan asuransi terbesar di Singapura, turut urun suara.
Menurut dia, banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan pemerintah sebelum membuka keran bagi imigran, antara lain upah yang memadai untuk semua sektor tenaga kerja. "Upah harus cukup untuk membesarkan keluarga," katanya pada Reuters.
Perdana Menteri Singapura, Lee Hsieng Loong, dalam momen yang sangat emosional di depan Parlemen — ia berkata dengan mata memerah -- menekankan bahwa konsep inti Singapura bukan hanya tentang angka, tapi tentang semangat.
Inti Singapura, katanya, adalah mereka yang berbagi nilai-nilai, cita-cita, kenangan, dan pengalaman. "Mereka yang bersedia untuk membela bangsa dan cara hidup kita karena kita merasa bersama-sama sebagai sebuah bangsa," katanya.
Semangat Singapura, kata dia, juga harus mencakup penerimaan pendatang baru sebagai "salah satu bagian dari kita sendiri" jika mereka bersedia berkomitmen untuk negara. Ia mengakui bahwa lebih sulit untuk menyerap pendatang baru sekarang daripada ketika generasi pendiri bangsa masih hidup.
"Sebagai sebuah negara kita telah mengembangkan identitas khas Singapura, namun kebutuhan untuk imigran tetap ada," katanya.
Imigran, katanya, membantu memperkuat inti Singapura, melengkapi bibit-bibit berbakat, dan membuat hidup lebih baik bagi semua warga negara. Pemerintah, kata dia, akan selalu memperlakukan warga Singapura lebih baik daripada non-Singapura.
Lee mengatakan bahwa beberapa segmen kelompok pekerja asing tidak akan berdampak pada kelompok inti Singapura. "Seperti pekerja konstruksi, mereka hanya sementara di sini sampai proyek selesai," katanya. Singapura, dengan luas sekitar 714 km persegi merupakan salah satu negara terkaya di dunia dengan penghasilan per kapita sebesar 50 ribu dolar AS.
Ketimpangan pendapatan adalah salah satu problem utama Singapura. Banyak warga Singapura rata-rata mengantongi upah bulanan sekitar 4.100 dolar Singapura ( 3.300 dolar AS). Di sisi lain, biaya perumahan dua kali lipat selama dekade terakhir dan biaya termurah mobil baru sekitar 110 ribu dolar Singapura, karena pajak ditujukan untuk membatasi kepemilikan kendaraan.
Tan Jee Say, seorang mantan pegawai negeri, menuduh para penyokong di balik kebijakan White Paper terobsesi dengan pertumbuhan ekonomi dan mengabaikan biaya sosial kebijakan imigrasi itu. Bila faktor ini diabaikan, maka Singapura akan menjadi negara yang bergolak secara sosial.
"White Paper benar-benar akan mengubah karakter bangsa kita. Bukan hanya untuk 18 tahun tetapi selamanya," katanya. ***