Jumat , 19 May 2017, 09:09 WIB

Peran Bapak Rumah Tangga Masih Jarang di Keluarga Australia

Red: Ani Nursalikah
ABC
George Kanjere mengatakan ayah masih mengerjakan tugas rumah tangga dengan baik meski tidak melakukan pengasuhan penuh waktu sebagaimana ibu rumah tangga.
George Kanjere mengatakan ayah masih mengerjakan tugas rumah tangga dengan baik meski tidak melakukan pengasuhan penuh waktu sebagaimana ibu rumah tangga.

REPUBLIKA.CO.ID, MELBOURNE -- Meskipun tersedia langkah-langkah kebijakan mendukung peran bapak rumah tangga, para ahli mengatakan konsep ini masih jarang ditemukan di keluarga Australia. Riset terbaru mengungkapkan hanya empat persen bapak dari keluarga dengan dua orang tua menjaga anak-anak mereka penuh waktu.

Institut Kajian Keluarga Australia menganalisi data sensus sebelumnya dari 2011 dan data angkatan kerja dari tahun lalu. Kajian ini mendapati ada 75 ribu bapak yang mengurus anak-anak di Australia.

Peneliti Dr Jennifer Baxter mengatakan sementara tampaknya ada persepsi umum jumlah keluarga dengan bapak rumah tangga sedang meningkat jumlahnya, namun keluarga seperti ini masih cukup jarang. “Ketika anda memperhatikan secara seksama data statistik itu berapa banyak keluarga yang memiliki ayah yang tidak bekerja dan ibu yang bekerja, hanya ada beberapa saja yang seperti ini,” ungkapnya.

Baxter mengatakan dirinya menduga di masa depan kecil kemungkinan siapa pun dari orang tua ini yang akan tinggal di rumah. “Gagasan utama memiliki orang tua yang tinggal di rumah di dalam sebuah keluarga tidak begitu layak secara finansial seperti sebelumnya. Terutama jika Anda berbicara tentang ayah yang berada di rumah, itu akan menimbulkan kesulitan finansial,” katanya.

Baxter mengatakan kajian lebih lanjut diperlukan untuk mempelajari bagaimana keterlibatan bapak di dalam pengasuhan. “Kisahnya mungkin akan sedikit lebih rumit dibandingkan data statistik yang kita mampu tunjukkan,” katanya.

“Saya kira banyak ayah yang lebih terlibat didalam pengasuhan di rumah, tapi di sisi lain hal ini kemudian akan menyingkirkan mereka sepenuhnya dari pekerjaan. Saya kira ada banyak orang tua yang memanfaatkan pengaturan kerja yang fleksibel.”

Kehidupan bapak rumah tangga

Seorang ayah di Melbourne, George Kanjere memiliki jadwal yang penuh lantaran mengasuh dua anak perempuannya, berusia tiga tahun dan delapan bulan.

“Saya kira, ini pekerjaan yang tiada henti, hanya itu hal yang umumnya saya lakukan sepanjang hari, menjaga mereka dan mungkin sedikit membersihkan rumah dan mengerjakan ini itu, tapi pada dasarnya saya mengurus mereka sepanjang hari.”

Namun menurutnya dia sering kali merasa terisolasi, karena tidak banyak bapak-bapak lain yang berada pada situasinya. “Saya merasa saya harus belajar banyak hal yang sebelumnya tidak sepenuhnya saya perkirakan,’ katanya.

“Hal-hal yang saya pikir masyarakat pada umumnya ajarkan, ini yang akan kamu lakukan sebagai seorang perempuan dan ini yang anda akan lakukan sebagai anak laki-laki, hal-hal semacam itu.”

Dia bertemu dengan beberapa bapak rumah tangga lainnya di kawasan pinggiran kota yang sudah dikenalnya, tapi dia mengatakan bapak rumah tangga tetap minoritas. Dan diantara pertemanan di kelompoknya, Kanjere mengatakan dia mendengar bapak rumah tangga lainnya merasa tertekan bekerja dengan jam kerja yang panjang.

"[Seorang teman] yang bekerja di salah satu kantor di kota di mana umumnya pulang sebelum pukul 18.30 adalah hal yang agak memalukan, meski jam kerja secara teknis berakhir pukul 17.00 sore," katanya.

"Dan dia baru saja memiliki seorang bayi dan bayinya menjadi hal yang paling penting dalam hidupnya, jadi dia akan pulang tepat pukul 17.00. "Saya ingat dia mengatakan betapa sulit dan tidak mengenakkan baginya untuk bangkit dan meninggalkan kantor tepat pukul 17.00 sore."

Kanjere mengatakan meskipun bapak rumah tangga penuh waktu tidak mengasuh anak sebanyak ibu, namun mereka masih melakukan pekerjaan dengan baik. "Saya merasa ada banyak ayah yang semacam lebih terlibat dengan kehidupan anak-anak mereka sedikit dalam. Saya kira ayah sekarang lebih hadir secara emosional untuk anak-anaknya dibandingkan sebelumnya."

Diterjemahkan pukul 17:00 WIB, 16/5/2017 oleh Iffah Nur Arifah dan simak beritanya dalam bahasa Inggris di ABC News.

Sumber : http://www.australiaplus.com/indonesian/gaya-hidup-nad-kesehatan/masih-jarang-laki-laki-mau-menjadi-bapak-rumah-tangga-di-austra/8531866