Jumat, 10 Jumadil Awwal 1434 / 22 Maret 2013
find us on : 
  Login |  Register

Jadi Wanita Karier atau Ibu Rumah Tangga?

Rabu, 20 Maret 2013, 14:04 WIB
Komentar : 0
straighterline.com
Ibu dan wanita karier/ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, Seorang ibu kerap kali dihadapkan pada dilema ini: menjadi wanita karier atau ibu rumah tangga. Menurut pakar parenting Elly Risman, ketika seorang wanita memilih untuk menjadi ibu, bijaknya pekerjaan menjadi ibu harus merupakan pekerjaan utama dan yang lain dianggap pekerjaan kedua, jangan diputarbalikkan. Begitu seorang perempuan menikah, dia harus mampu melakukan pilihan: bekerja sebagai ibu atau menjadi ibu bekerja. Tidak ada yang salah dengan urusan menempuh karier, tapi harus diingat bahwa menjadi ibu adalah karier dan sangat mengasyikkan dan penuh tantangan juga.

Tapi, lanjut Elly dalam satu konsultasi, karier menjadi ibu memang seperti karier yang 'tak nyata' walaupun sebenarnya karier itu mempunyai konsekuensi finansial dan bahkan moral yang lebih besar ketimbang karier yang lain. Konsekuensi positif dari pilihan menjalani karier sebagai ibu hanya bisa dicapai dengan kekuatan, kemauan, keikhlasan hati, kesabaran dan ... kegembiraan.Sebab, pilihan menjalan karier sebagai ibu di masyarakat kita belum mendapat penghargaan yang pantas. Akibatnya, orang malu mengatakan bahwa dia Dra: Di Rumah Aja.

Dengan perkembangan teknologi sekarang ini, sangat memungkinkan seseorang mengembangkan kariernya sebagai sambilan dari menjadi ibu.Lihatlah kualitas anak sekarang! Selain tantangan yang dihadapi oleh orang tua menjadi semakin besar dalam mengasuh anak, juga disebabkan oleh kurangnya waktu untuk mengasuh anak sehingga tak mampu menghasilkan pengasuhan yang berkualitas. Semua terjadi karena pandangan yang keliru tentang nilai dan makna karier. Keberhasilan hidup seorang perempuan dinilai dari jumlah rupiah yang dibawanya pulang ke rumah dan tingginya jabatannya di kantor.

Sebenarnya, papar Elly, hasil penelitian menunjukkan bahwa negara seharusnya memberikan perhargaan yang sangat tinggi pada perempuan-perempuan yang berpendidikan tinggi tetapi memutuskan untuk mengasuh anak-anaknya di rumah. Sebab, perolehan yang mereka sumbangkan kepada negara jauh lebih besar dari rupiah.

Jadi, kalau seorang ibu memilih untuk berkarier di luar rumah, bukan berarti anaknya akan gagal semua, tetapi ia harus bekerja lebih keras dari semestinya yang dia tanggungkan, fisik, moril, dan finansial. Perencanaan harus tepat, kerja sama dengan pasangan dan keluarga harus baik. Perekrutan pengasuh serta aturan yang diberlakukan dalam pengasuhan harus jelas dan terus menerus dievaluasi. Hanya dengan menempuh berbagai cara tersebut, akan dicapai anak yang mandiri.

Redaktur : Endah Hapsari
1.077 reads
Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.(QS At Taubah ( 9:20))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
Silahkan login atau register untuk kirim komentar Anda

  VIDEO TERBARU
Geliat Perkembangan Muslim Cina
Pemerintah Komunis berencana untuk membangun masjid di seluruh negeri. Hal ini, merupakan implementasi guna memenuhi tuntutan 20-an juta warga Muslim di negeri itu.Menurut...