Senin , 07 August 2017, 11:30 WIB

Dapat Sopir Bus Muslim di Eropa, Sesuatu Banget

Red: Irwan Kelana
Dok Adinda Azzahra
Priyadi Abadi (kanan) dan sopir bus wisata asli Belanda bernama Said.
Priyadi Abadi (kanan) dan sopir bus wisata asli Belanda bernama Said.

REPUBLIKA.CO.ID, PARIS – Tugas-tugas seorang tour leader (TL) khususnya di Eropa selalu berkaitan erat dengan peran seorang pengemudi bus/coach captain. Juga kelancaran dari suatu perjalanan tersebut ditentukan  kerja sama antara tour leader dan pengemudi bus.

“Keduanya  haruslah kompak dan saling memahami dikarenakan hanya mereka berdua ah penentu keberhasilan sebuah perjalanan.  Bilamana ada local guide itupun hanya ada di beberapa kota tertentu dan waktunya sangat terbatas, biasanya hanya empat jam saja,” kata tour leader senior Muslim, Priyadi Abadi dalam pesan instan yang diterima Republika.co.id langsung dari Paris, Perancis, Ahad (6/8).

Priyadi yang tengah membawa rombongan turis  Muslim (Muslim traveller) ke Eropa Barat selama dua minggu menambahkan, kebersamaan selama  15 hari dalam mengatur dan memberikan layanan terbaik kepada semua peserta seringkali menimbulkan hubungan emosional yang dalam antar keduanya.

Seperti yg dialami oleh Priyadi Abadi kali ini. Ia terkejut, karena mendapatkan sopir bus seorang Muslim yang taat. “Ia orang Belanda asli dan menjadi mualaf sejak umur 15 tahun. Nama Belandanya adalah Recardo van Leuween. Setelah menjadi Muslim, namanya diganti menjadi Said. Nama itu diberikan oleh pengurus Masjid di Amsterdam saat dia mengucapkan dua kalimat syahadat,” tutur Priyadi yang sudah berpengalaman lebih 25 tahun sebagai tour leader.

Ia mengatakan, dalam melaksanakan tugasnya sebagai tour leader, selama ini ia pun kerap kali berinteraksi dengan orang-orang Islam di Eropa.  Tapi biasanya mereka adalah imigran dari Timur Tengah, seperti Maroko dan Aljazair. “Sedangkan Said ini asli Belanda. Saat ini, saudara-saudara dan orang tua Said masih belum menjadi Muslim. Namun isti dan dua anaknya semuanya memeluk Islam,” ujar chief executive officer (CEO) Adinda Azzahra Tour itu.

Cerita Said cukup unik. Saat dia bekerja paruh waktu di sebuah restoran milik warga  Belanda keturunan Maroko yang beragama Islam, Said kecil perlahan-lahan  tertarik untuk mendalami agama Islam.  Ia kemudian menjadi mualaf pada usia 15 tahun. Namun baru pada usia 18 tahun Said benar-benar  mendalami dan menjalankan syariat Islam.

Bagi Priyadi, mendapatkan sopir bus wisata seorang Muslim, sangat menggembirakan. “Saya sangat gembira sekali mendapatkan partner kerja saya seorang pengemudi Muslim dan ini kali pertama saya  mendapatkannya. Apalagi ia juga cakap berbicara bahasa Arab.  Ini sesuatu banget,” kata Priyadi yang juga chairman Indonesian Islamic Travel Communication Forum (IITCF).

Keberadaan sopir bus wisata beragama Islam itu sangat membantu tugasnya sebagai seorang tour leader. “Ia  sangat membantu memberikan informasi-informasi  penting seperti resto halal yang di luar sepengetahuan saya selama ini. Juga cerita-cerita tentang  perkembangan Islam yang update di Eropa  dan masih banyak lainnya. Waktu shalat pun terjaga, dan kita saling mengingatkan,” papar Priyadi Abadi yang juga ketua Asosiasi Tour Leader Muslim Indonesia  (ATLMI).