Kamis , 13 July 2017, 00:54 WIB

IITCF Gelar Halal Bihalal dan Kelas Jurnalistik

Rep: Reja Irfa Widodo/ Red: Irwan Kelana
Republika/Rakhmawaty La'lang
Ketua Tim Percepatan Pengembangan Pariwisata Halal (P3H) Kementerian Pariwisata RI Riyanto Sofyan menyampaikan pidato sambutan saat menghadiri acara Halal Bin Halal dan kelas Jurnalistik yang diadakan IITCF di Hotel Sofyan, Jakarta, Selasa (11/7).
Ketua Tim Percepatan Pengembangan Pariwisata Halal (P3H) Kementerian Pariwisata RI Riyanto Sofyan menyampaikan pidato sambutan saat menghadiri acara Halal Bin Halal dan kelas Jurnalistik yang diadakan IITCF di Hotel Sofyan, Jakarta, Selasa (11/7).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bertempat di Ruang Kecapi, Hotel Sofyan Inn, Tebet, Jakarta Selatan, Selasa (11/7) Indonesian Islamic Travel Communication Forum (IITCF) menggelar acara halal bihalal sekaligus pelatihan jurnalistik bagi para anggotanya. Pelatihan jurnalistik ini pun dianggap sebagai salah satu sarana untuk memberikan edukasi dan meningkatkan kemampuan dari para pengurus dan anggota IITCF, yang berasal dari berbagai travel Muslim dan tour leader Muslim.

Menurut Ketua IITCF, Priyadi Abadi, selain menjalin silaturahim  antaranggota, kegiatan ini juga dapat memberikan manfaat lain bagi para pengurus dan anggota IITCF, yaitu mampu menulis berita dan mengabadikan hasil perjalanan yang telah dilakukan lewat tulisan. "Ingatan kita pendek, rasanya sayang sekali jika perjalanan begitu indah, yang telah dilewati oleh rekan-rekan sekalian, tidak dituangkan dalam tulisan. Insya Allah tulisan-tulisan ini nantinya dapat bermanfaat bagi para pembaca,"  ujar Priyadi saat membuka acara tersebut.

Selain dihadiri sekitar puluhan pengurus dan anggota ITTCF, kegiatan ini pun dihadiri oleh sejumlah pelaku industri pariwisata Indonesia, seperti Ketua Tim Percepatan Pengembangan Pariwisata Halal Kementerian Pariwisata  Riyanto Sofyan, Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) DKI Jakarta Hasiyanna Ashadi, Ketua Indonesia Tour Leaders Association (ITLA) Edwin Wijaya, dan Ketua Asosiasi Pelaksana Haji, Umroh, dan In-Bound Indonesia (Asphurindo) Syam Resfiadi. Juga hadir Wakil Pemimpin Redaksi Harian Republika Nur Hasan Murtiaji.

Sedangkan pengisi materi dalam pelatihan jurnalistik tersebut adalah redaktur senior Harian Republika  Irwan Kelana,  Pemimpin Redaksi Majalah Haji dan Umrah Hayat Fakhrurrozi, dan wartawan senior  Radio Elshinta, Sigit Kurniawan. “Dengan tema 'How To Be a Good Travel Writer', para peserta nantinya diharapkan bisa memiliki kemampuan menulis berita atau tulisan lepas terkait paket wisata yang akan dan telah dijalaninya,” kata Priyadi Abadi.

Riyanto Sofyan pun menyambut baik acara ini. Menurut Chairman Sofyan Corp itu, pelatihan ini dapat menjadi salah satu cara untuk meningkatkan profesionalisme para pelaku industri pariwisata, terutama wisata halal. Profesionalisme tersebut memiliki tiga komponen, yaitu knowledge, skill, dan attitude. Dalam kerangka peningkatan profesionalisme itu, para peserta nantinya dapat memberikan gambaran ataupun bercerita tentang berbagai atraksi-atraksi wisata.

"Dalam kerangka pelatihan sekarang, ya mengenai storytelling ini. Bagaimana juga, atraksi-atraksi wisata di Indonesia sebenarnya tidak kalah dengan yang ada di luar negeri. Tapi mereka mampu mengemasnya dengan cerita atau storytelling yang bagus," tutur Riyanto.

Lebih lanjut, Riyanto menuturkan, salah satu yang dibutuhkah oleh wisatawan saat hendak memilih tempat untuk berekreasi adalah cerita maupun deskripsi yang diberikan kepada mereka. "Orang saat mau berkunjung itu kan mau cerita, mau experience, bukan cuma hanya jalan-jalan saja. Apalagi, kalau itu wisata halal, itu kan harus banyak hikmah untuk mendekatkan diri kepada Allah,"  ujar Riyanto.

Priyadi mengungkapkan, kegiatan pelatihan jurnalistik dan cara menulis berita ini merupakan salah satu program pelatihan yang telah dilakukan oleh IITCF. Sejak didirikan pada tahun lalu, IITCF memang secara konsisten memberikan pelatihan-pelatihan terhadap para anggota dan pengurusnya, baik itu tour leader ataupun travel owner, secara rutin setiap bulan.

Pelatihan-pelatihan itu dilakukan dengan berbagai tema dan konteks. Mulai dari bagaimana cara memandu (guiding), membedah berbagai destinasi populer di dunia, bahkan hingga mengenai permalasahan-permasalahan pajak. Priyadi menambahkan, IITCF memang bukan asosiasi, melainkan sebuah training center atau pusat pendidikan, dan pengembangan SDM travel muslim menjadi tujuan  utama  IITCF.

Sebagai lembaga yang berkonsentrasi pada edukasi dan sosial, IITCF pun memiliki yayasan yang mengelola dana dari para donatur. Dana-dana tersebut dikembalikan dalam bentuk beasiswa kepada mahasiswa-mahasiswa jurusan Pariwisata yang mengalami kesulitan biaya.

Selain itu, IITCF juga memiliki program sosial berupa tebar perangkat shalat di seluruh dunia. "Kami memberikan perangkat tersebut kepada hotel, restoran, rest area, objek wisata, dan pusat perbelanjaan. Hal ini agar memudahkan para Muslim traveler untuk beribadah. Kami juga secara rutin memberikan edukasi pada pihak hotel, seperti soal arah kiblat, makanan halal, dan waktu shalat. Ini semua untuk memudahkan muslim traveler agar mereka semakin nyaman saat melakukan tadabur alam dan tidak meninggalkan ibadah,"  tutur Priyadi.

Tidak hanya di dalam negeri, IITCF juga memfasilitasi para pengurus atau anggota untuk bisa melakukan praktik di luar negeri atau educational trip. Pada tahun lalu, IITCF setidaknya telah melakukan perjalanan ke Eropa Barat, Thailand, Taiwan, dan Turki. Kegiatan ini pun telah menghasilkan alumni, yang kini tersebar di seluruh Indonesia.

Pada tahun ini, IITCF rencananya akan melakukan trip ke Korea Selatan, Andalusia, dan Amerika Serikat. "Kami mendorong terus pelatihan-pelatihan, tapi tetap dalam kerangka wisata Muslim. Hal itu  karena tujan kami di bidang  wisata Muslim, karena teman-teman sepertinya belum ada yang concern dengan wisata Muslim,"  kata Priyadi.