Friday, 4 Sya'ban 1439 / 20 April 2018

Friday, 4 Sya'ban 1439 / 20 April 2018

Jelang Pilkada, Warganet Harus Pintar Filter Konten

Ahad 14 January 2018 06:41 WIB

Rep: Nora Azizah/ Red: Indira Rezkisari

Pilkada Serentak (Ilustrasi)

Pilkada Serentak (Ilustrasi)

Foto: Republika/ Wihdan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pilkada serentak 2018 sudah dekat. Biasanya, di musim Pilkada atau sejenisnya, dunia maya akan 'banjir' konten-konten hoaks atau palsu yang berindikasi persuasif hingga berunsur kebencian dari pihak tidak bertanggung jawab.

Executive Director (Acting) ICT Watch Indonesia Widuri mengatakan, isu dan konten di media sosial perlu mendapat kritisi dari penggunanya. "Kemunculan konten hoaks atau mengandung unsur kebohongan sering terdapat di medsos," kata Widuri.

Widuri mengatakan, netizen dengan pemahaman literasi digital cukup benar tidak akan mudah membagi atau meneruskan pesan tanpa memeriksa terlebih dahulu sumber berita tersebut. Sebelum membagi dengan orang lain, seseorang harus cek terlebih dahulu sumber informasi tersebut berasal.

Itu sebabnya pengetahuan tentang literasi digital sangat diperlukan. Apabila seseorang tidak memahami cara membedakan berita palsu dan benar biasanya tidak akan melakukan cek sumber. Tanpa menyelidiki kebenarannya biasanya akan langsung menyebarkan tulisan tersebut.

Salah satu alasan bila tidak membagikan informasi tersebut maka akan dianggap tidak update atau ketinggalan informasi. Bahkan tidak sedikit netizen yang membagikan informasi hanya membaca judulnya saja tanpa repot mengetahui isinya. Tentu perilaku tersebut tidak dibenarkan. Apabila tidak memiliki waktu untuk melakukan validasi dan keabsahan berita, sebaiknya tidak membagi dan menyebarkan berita tersebut.

Ada beberapa hal yang perlu dilakukan untuk mengetahui sebuah informasi palsu atau benar. Langkah pertama, hati-hati untuk berita dengan judul provokatif atau sensasional. Berita dan tulisan dengan judul demikian sering kali berbumbu hoaks dan menyebarkan kebohongan.

Kemudian, cermati alamat situs dari konten tersebut. Apabila mencurigakan sebaiknya diabaikan. Periksa fakta dengan mencari artikel serupa yang pernah dimuat di media masa terpercaya.

Apabila konten dalam bentuk foto sebaiknya cek keaslian foto menggunakan Google Search atau software khusus yang kini banyak digunakan. Terakhir, netizen bisa terlibat di dalam grup atau komunitas diskusi anti hoaks agar selalu mendapatkan informasi terkini. Bergabung bersama komunitas juga bisa membuat netizen mengetahui jenis berita bohong yang tengah populer.

Beberapa forum anti hoaks, antara lain Forum Anti Fitnah Hasut dan Hoax (FAFHH), Fanpage dan Group Indonesian Hoax Buster, Fanpage Indonesian Hoaxes, dan Grup Sekoci. Bergabung bersama grup dan komunitas akan membuat netizen merasa lebih aman dan nyaman bermain di dunia maya. Dampak mengonsumsi atau terpapar berita hoaks tentu tidak baik bagi diri sendiri.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES