Selasa , 03 October 2017, 18:30 WIB

IBF 2018 Dorong Kejayaan Islam Melalui Literasi

Rep: Syahruddin El-Fikri/ Red: Irwan Kelana
Republika/ Wihdan
Penulis Buku Tere Liye memberikan paparan kepada fans pada Bedah Buku Tentang Kamu saat Islamic Book Fair 2017, Balai Sidang, Jakarta, Ahad (7/5).
Penulis Buku Tere Liye memberikan paparan kepada fans pada Bedah Buku Tentang Kamu saat Islamic Book Fair 2017, Balai Sidang, Jakarta, Ahad (7/5).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Pameran buku Islam atau Islamic Book Fair (IBF) akan kembali digelar. “IBF 2018 rencananya akan dilaksanakan pada 18-22 April 2018,” kata Ketua Panitia Pelaksana IBF 2018, M. Anis Baswedan, di Jakarta, Selasa (3/10).

Islamic Book Fair (IBF) diselenggarakan oleh Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) DKI. Pameran buku Islam terbesar di Indonesia bahkan Asia Tenggara itu digelar setiap tahun. IBF 2018 merupakan IBF yang ke-17. Sejak IBF pertama kali digelar, Harian Republika selalu menjadi media partner.

IBF pertama sampai ke-15 diadakan di Istora Senayan Jakarta. Mulai IBF ke-16 tahun 2017 tempatnya dipindahkan ke Jakarta Convention Center (JCC) Jakarta.

Anis menjelaskan, seperti tahun 2017, IBF  2018 akan digelar di  JCC). “Insya Allah, pelaksanaannya masih di tempat yang sama, yakni JCC. Dan pada penyelenggaraan IBF kali ini kami berharap bisa memberikan yang terbaik bagi para pecinta buku, peserta pameran, pengunjung, dan seluruh stakeholders dunia perbukuan,” ujarnya.

Anis menambahkan, pihak panitia penyelenggara telah menyiapkan berbagai hal untuk menyambut event pameran buku Islam yang terbesar ini. “Mulai dari promosi, publikasi, silaturahim ke pihak sponsor, juga ke lingkup pesantren, kampus, sekolah, instansi terkait dan masyarakat,” terangnya.

Dengan berbagai promo dan aktivitas yang telah dijalankan tersebut, pihaknya berharap mendapatkan tanggapan positif dari banyak pihak, terutama para sponsor dan peserta pameran. “Tahun lalu, sekitar 200-300 peserta ikut meramaikan penyelenggaraan Islamic Book Fair. Tahun ini kami harapkan minimal sama dengan tahun lalu,” kata direktur Penerbit Akbar Media ini.

Begitu pula dengan jumlah pengunjung pameran. Dari beberapa pameran buku yang pernah diselenggarakan, ungkap Anis, IBF  selalu dipadati para pengunjung. “Sewaktu di Istora dulu, jumlahnya bisa mencapai 400.000-450.000 pengunjung selama 10 hari. Sedangkan di JCC, jumlahnya sekitar 150.000-200.000, karena waktu penyelenggaraannya hanya lima hari,” kata dia.

IBF di Istora Senayan digelar selama 10 hari. Dari hari Jumat sampai hari Ahad pekan berikutnya. Adapun IBF di JCC digelar hanya lima hari, dari hari Rabu sampai Ahad.

Sebenarnya, kata dia, jumlah pengunjung pameran bisa didata secara lengkap melalui tiket masuk. Namun, karena kebijakan panitia, ada jaringan dan sekolah atau pesantren yang diberikan keringanan masuk. “Ini bagian dari upaya Ikapi DKI dalam menumbuhkan minat baca masyarakat, khususnya di kalangan pelajar,” ungkapnya.

Mengenai tiket masuk IBF  2018, pihaknya tetap akan memberlakukannya. Tahun lalu, tiket masuk pameran sebesar Rp 5.000.  “Untuk tahun 2018, masih kami diskusikan. Apakah nanti mau dinaikkan hingga Rp 10.000  atau tetap dengan harga Rp 5.000 per tiket,” ujar Anis.

Anis berharap, IBF 2018 ini mampu menumbuhkan minat baca masyarakat. Karena itu, ia mengajak lembaga pemerintah seperti Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Kementerian Agama (Kemeng), Kementerian Sosial (Kemensos), Kementerian Desa dan Percepatan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT), Badan Ekonomi Kreatif (BeKraf) serta lembaga terkait lainnya untuk turut serta mengikuti pameran buku-buku islam ini.

Anis menambahkan, pada Rabu (4/10), bertempat di gedung Perpustakaan DKI Jakarta, Taman Ismail Marzuki, pihaknya mengundang para penerbit untuk memilih stan pameran. “Silakan para penerbit untuk memilih stan terbaik dan sesuai harapan mereka dalam memasarkan produk bukunya kepada khalayak,” terangnya.

Majukan literasi
Terpisah, Ketua Ikapi DKI Jakarta, Hikmat Kurnia menyatakan, pada IBF 2018 ini, panitia penyelenggara mengusung tema ‘Meraih Kejayaan Islam Melalui Literasi”. Tema ini, kata dia, dimaksudkan untuk memberi motivasi pada seluruh umat Islam, khususnya masyarakat Muslim di Indonesia, bahwa kemajuan dunia Islam itu sangat ditentukan oleh ilmu pengetahuan.

“Lihatlah hingga masa Dinasti Abbasiyah, bagaimana Islam begitu maju karena masyarakatnya melek buku. Pada masa itu, banyak bermunculan cendikiawan muslim seperti Ibnu Sina, Ibnu Khaldun, Al Farabi, Al-Ghazali, dan lain-lainnya,” kata Hikmat Kurnia.