Jumat , 24 Januari 2014, 15:10 WIB

Kekeliruan Sejarah tentang Jalan Daendels Selatan

Rep: Angga Indrawan/ Red: Fernan Rahadi
Republika/Agung Supriyanto
Salah satu Jalur Daendels, yakni jalan raya di kawasan Anyer, Banten difoto dari atas mercu suar.
Salah satu Jalur Daendels, yakni jalan raya di kawasan Anyer, Banten difoto dari atas mercu suar.

REPUBLIKA.CO.ID, 150 tahun sudah, bahkan lebih jalan itu bernama jalan Daendels. Bukan, bukan yang menghubungkan Anyer-Panarukan sepanjang 1.000 kilometer. Jalan yang juga bernama Daendels itu berada di Selatan pulau Jawa, tepatnya melintasi provinsi Jawa Tengah. Jaraknya tak begitu jauh, hanya 130 kilometer. Jalan itu menghubungkan kota Bantul dengan Purworejo, Kebumen, dan Cilacap.
 
Jalurnya rawan, banyak begal hingga tanpa marka dan penerangan. Kondisi dan cap buram itu yang membuat orang malas menyapa, apalagi menyambanginya. Alhasil, sejarah tutur terlanjur terbentuk. Nama Daendels diasosiasikan dengan Gubernur Jenderal Hindia Belanda ke-36, Herman Willem Daendels yang membangun jalan berlumur darah, Anyer Panarukan (de Groote Postweg). Padahal dari informasi yang kemudian ditemukan, sama sekali tidak ada kaitan antara keduanya.

Jalan Daendels Selatan, Yogyakarta-Cilacap ternyata bukan buatan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Herman Willem Daendels (1808-1811). Jalur eksotis pantai Selatan ternyata jauh lebih tua dibandingkan jalur Utara. Jalan Daendels Selatan merupakan jalur kuno yang telah ada sejak abad ke-14.
 
"Jalur upeti kerajaan di Jawa, yang menghubungkan antara kerajaan Kediri, Majapahit, Pajang, Mataram, Cirebon, hingga ke Demak di Utara," kata Sejarawan Kebumen, Ravie Ananda.