Sabtu , 15 December 2012, 06:43 WIB

Eksotisme Ombak Pantai Pulau Merah Banyuwangi

Rep: Ahmad Islamy Jamil/ Red: Indah Wulandari
twicsy
Pantai Pulau Merah Banyuwangi
Pantai Pulau Merah Banyuwangi

REPUBLIKA.CO.ID, Seorang teman di Muncar mengatakan, bertandang ke Kabupaten Banyuwangi belum lengkap rasanya tanpa menyambangi Pantai Pulau Merah.

Sesampainya di lokasi wisata itu pekan lalu, saya tak menyangka bakal berjumpa pemandangan yang begitu eksotis. Area pasir menghampar luas, diselingi pohon-pohon pandan laut yang tumbuh berkelompok. Gulungan ombak berlapis-lapis bergerak susul menyusul menuju bibir pantai.

Pesona ini tidak saya jumpai saat berada di Pantai Kuta Bali beberapa waktu lalu, walaupun wisatawan yang berkunjung ke sana jauh lebih banyak. Sementara di depan sana, terdapat beberapa gugusan pulau kecil. Ada Pulau Mustaka, Pulau Manuk, dan Pulau Bedil. Pulau terdekat berupa gundukan tanah melengkung yang menyembul dari dasar laut.

Hampir seluruh permukaannya ditutupi tumbuh-tumbuhan hijau. Itulah Pulau Merah, landmark dari kawasan ini. Entah mengapa dinamai demikian. Tapi setidaknya, ada dua versi pendapat dari penduduk setempat mengenai asal-muasal penamaan pulau itu.

Ada yang mengatakan karena warna tanahnya yang kemerah-merahan. Sebagian lagi menyebutkan, konon dari pulau itu dahulunya pernah terpancar cahaya merah. “Sejak itulah, kawasan yang sebelumnya dikenal dengan Ringin Pitu ini berganti nama jadi Pulau Merah,” jelas Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Wisata Pulau Merah, Rakih (38).

Hempasan gelombang pada karang-karang di sekitar pulau ini menyajikan keindahan tersendiri. Saat air sedang surut, kata Rakih, para pengunjung dapat berjalan kaki ke pulau tersebut. Dari pinggir pantai, jaraknya hanya seratus meter.

Menurut pria itu, pantai di kawasan ini sering dijadikan tempat latihan selancar oleh para amatir. Susunan ombak berlapis empat hingga lima kerap terlihat berkejar-kejaran di sini. Ketinggian rata-rata gelombangnya satu sampai dua meter lebih.

Tidak mengherankan bila akhir-akhir ini Pantai Pulau Merah mulai menyedot perhatian peminat olahraga tersebut, baik dari kalangan domestik, maupun mancanegara.Karena itu, pengelola tempat wisata juga menyediakan jasa penyewaan papan selancar. Dengan membayar tarif Rp 25 ribu, pengunjung dapat memakai peralatan ini sepuasnya selama seharian.

Pada hari-hari biasa, para pengunjung bisa masuk dengan gratis. Namun setiap tanggal merah, mereka dikenakan karcis seharga Rp 2 ribu per kepala. Pantai ini pun biasanya lebih ramai di hari libur tersebut. “Wisatawan yang datang dalam sehari bisa mencapai 500-600 orang,” terangnya.

Sore itu, angin sepoi-sepoi bertiup melenakan. Beberapa anak terlihat asyik bermain air laut, diiringi gelak tawa mereka yang khas. Sebagian lagi ada yang menikmati hawa senja sambil bersepeda di pinggir pantai. Dari tempat ini, pengunjung dapat mencapai perkampungan nelayan Pancer dengan menyusuri garis pantai sepanjang lebih kurang 4 km ke arah barat.

Rakih berkisah, bencana tsunami yang terjadi pada 1994 silam menjadi mimpi buruk bagi penduduk yang bermukim di dekat Pantai Pancer dan Pulau Merah. Kala itu, ombak raksasa setinggi 13 meter menyapu rumah-rumah warga beserta bangunan lainnya di kawasan ini. Usai peristiwa itu, hanya ada satu bangunan mushalla yang masih utuh berdiri di Dusun Pancer.

“Sayang sekali, mushalla itu sudah dirobohkan karena tidak ada lagi yang mengurusinya,” ucap Rakih.

Tak jauh dari pantai, terdapat Pura Tawang Alun. Kata Rakih, tempat ibadah yang resmi dibangun pada 1980 ini sering dikunjungi umat Hindu dari Bromo dan Bali. Saat tsunami, tembok luar pura ini juga ikut luluh-lantak. Namun bagian dalam bangunannya, yang disebut Palinggih Padmasana, luput dari terjangan ombak ganas tersebut.

Di sisi timur kawasan ini, terdapat area pertambangan emas yang dikelola PT Indo Multi Niaga (PT IMN). Beberapa tahun lalu, aktivitas penambangan di lahan milik Perhutani tersebut sempat menuai perlawanan dari penduduk setempat, termasuk nelayan tradisional Pancer. Pasalnya, mereka menuding limbah yang dihasilkan oleh perusahaan ini mencemari laut, sehingga berdampak buruk terhadap kelangsungan ekosistem di daerah ini.

Pantai Pulau Merah yang berada dalam wilayah Kecamatan Pesanggaran termasuk bagian dari rangkaian pantai di selatan Jawa Timur. Dari Banyuwangi, tempat wisata ini bisa ditempuh dalam waktu sekitar tiga jam menggunakan kendaraan roda empat atau sepeda motor.

Bagi mereka yang ingin menghabiskan waktu lebih lama di Pantai Pulau Merah, bisa menggunakan jasa penginapan di rumah-rumah warga di sekitar sini. “Tarif sewa per malamnya paling mahal Rp 100 ribu,” ujar Rakih.

Pengunjung pun tak perlu pusing kalau mau mengganjal perut. Karena, di tempat ini tersedia sejumlah warung makanan yang cukup terjaga kebersihannya.