Jumat, 10 Jumadil Awwal 1434 / 22 Maret 2013
find us on : 
  Login |  Register

Berwisata ke Dieng: Ruwatan Anak Berambut Gembel

Kamis, 14 Juli 2011, 15:14 WIB
Komentar : 0
Foto-foto: Nyanyu/PicnicHolic
Anak Dieng berambut gembel

Berkunjung ke Dataran Tinggi Dieng,Wonosobo, Jawa Tengah, selain disuguhi pemandangannya yang cantik, hawa yang sejuk, kita juga bisa menemukan keunikan lain dari masyarakatnya, yakni ritual ruwatan anak-anak berambut gembel.

Ritual tersebut, yang telah dilakukan secara turun temurun, cukup menarik bagi para wisatawan dari luar. Masyarakat dari luar bisa melihat prosesinya langsung saat Dieng Culture Festival yang biasanya dilakukan setiap tahun di bulan Juli. Konon, gembel sudah ada sejak jaman Kyai Kolodate dan Nini Roro Ronce yang merupakan leluhur Dataran Tinggi Dieng.

Beberapa anak yang tinggal di sana memang mempunyai rambut gembel. Rambut kusut bergumpal, seperti berbulan-bulan tidak dicuci dan dirawat, tumbuh alami pada beberapa anak Dataran Tinggi Dieng. Bukan karena faktor keturunan atau pun memang sengaja dibuat gembel, rambut tersebut justru tumbuh alami.

Hingga saat ini belum diketahui pasti penyebab gembel pada beberapa anak-anak di Dieng. Namun, biasanya rambut gembel muncul setelah si anak mengalami demam tinggi dan disertai mengingau saat tidur. Gejala ini tidak bisa diobati sampai akhirnya akan normal dengan sendirinya dan setelahnya rambut menjadi kusut.

Anak Gembel konon harus diruwat untuk mengembalikan rambut gembelnya ke kondisi semula. Ruwatan harus dilakukan setelah ada permintaan dari si anak. Jika tidak dilaksanakan,maka sekali pun sudah dicukur, Rambut Gembel akan tumbuh kembali.

Biasanya sebelum diruwat, Anak Gembel akan mengajukan ‘permintaan’ yang sedikit aneh. Permintaan  tersebut konon harus dipenuhi agar terhindar dari bala dan malapetaka. Masyarakat setempat percaya bahwa yang mengajukan ‘permintaan’ tersebut adalah bukan anak itu sendiri, melainkan dewa. Dewi Anjani (3 tahun), misalnya, saat akan di ruwat meminta disediakan 600 telur. Sedangkan anak lain, Mutaharoh (6 tahun), meminta tempe bungkus sebanyak 500 buah.

Ritual ruwatan anak gembel mempunyai prosesi yang panjang. Sehari sebelum diadakan ruwatan, terlebih dahulu dilakukan prosesi Napak Tilas yang dipimpin oleh Sesepuh Pemangku Adat serta beberapa tokoh menuju beberapa tempat di Dataran Tinggi Dieng (Komplek Candi, Kawah Sikidang, goa-goa di Telaga Warna, kali Pepek, Komplek pemakaman Dieng). Di tempat tersebut mereka melakukan ritual agar prosesi Ruwatan Rambut Gembel berlangsung lancar.

Prosesi ruwatan
Ritual Ruwatan Rambut Gembel itu sendiri terdiri dari beberapa prosesi:

1. Kirab, yakni Anak Gembel di arak menuju lokasi pencukuran. Mereka didampingi oleh pengawal utama, yaitu dua sesepuh Cucuk ing Ngayodya, dua orang pembawa dupa dan para prajurit pembawa tombak, keris dan pusaka lainnya, serta dua orang pembawa bunga Cucuk Lampah. Selanjutnya, para  pembawa permintaan (sesajen) Anak Gembel membawa berbagai baju khusus, jajanan pasar, buah-buahan, kinang, alat rias, berbagai cangkir dengan 14 macam minuman juga ikut serta dalam rombongan arakan. Anak Gembel  dinaikkan ke andhong dan diikuti oleh berbagai macam seni tradisional yang menyajikan pagelaran seninya hingga prosesi berakhir.

2. Jamasan, yaitu memandikan Anak Gembel di Sendang Sedayu di komplek Candi Arjuna. Air Jamasan ditambah dengan kembang 7 rupa dan air dari Tuk Bimalukar, Tuk Sendang Buana, Tuk Kencen, Tuk Gooa Sumur, Kali Pepek dan Tuk Sibido. Setelah Jamasan selesai Anak Gembel dikawal menuju tempat pencukuran.

3. Pencukuran, dilakukan oleh Pemangku Adat. Dilanjutkan dengan tasyakuran dan doa. Pada saat itu masyarakat yang melihat prosesi bisa menyaksikan sajian seni tradisonal dan menerima Ubo Rampai yang dibagikan oleh pemangku Adat dan dianggap membawa berkah.

4. Ngalap Berkah, berupa selamatan yang memperebutkan tumpeng dan makanan lainnya yang dipimpin oleh Pemangku Adat. Ngalap Berkah dipercaya masyarakat setempat bisa mendatangkan berkah bagi yang mengikutinya.

5. Pelarungan, proses akhir dari ritual. Rambut yang telah dicukur dilarung/dibuang ke Sungai Serayu yang akan menuju ke Laut Selatan.




Nyanyu Partowiredjo
, pelaku wisata
picnicholic@gmail.com

 



Rubrik ini bekerja sama dengan Picnicholic
www.picnicholic.webs.com

@PicnicHolic


Redaktur : Johar Arif
2.722 reads
Buta yang paling buruk ialah buta hati.((HR. Asysyihaab))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
Silahkan login atau register untuk kirim komentar Anda

  VIDEO TERBARU
Geliat Perkembangan Muslim Cina
Pemerintah Komunis berencana untuk membangun masjid di seluruh negeri. Hal ini, merupakan implementasi guna memenuhi tuntutan 20-an juta warga Muslim di negeri itu.Menurut...