Jumat , 01 September 2017, 10:40 WIB

Komunikasi, Kunci Anak Terhindari dari Kejahatan Seksual

Rep: Desy Susilawati/ Red: Winda Destiana Putri
Foto : MgRol_92
Ilustrasi Pedofil
Ilustrasi Pedofil

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Untuk menghindari anak menjadi korban kejahatan seksual maupun kejahatan lainnya, Seto Mulyadi seorangan Psikolog ternama memberikan saran. Kunci utamanya menurutnya ada komunikasi antara orang tua dan anak.

Komunikasi seperti apa yang dianjurkan? Menurutnya, kejahatan seksual pada anak yang kian marak harus diwaspadai bersama dengan meningkatkan komunikasi bersama. "Jadi anak-anak ini jangan terlalu lepas dengan ketidakpedulian atau cuek, atau justru dengan tekanan berlebihan, maksudnya baik memberi nasehat, tapi dengan cara yang justru buat anak kabur atau lari dari keluarga,” ujarnya kepada Republika.co.id.

Ia menegaskan yang harus dilakukan orang tua adalah meningkatkan kualitas komunikasi dengan anak. Bangunlah komunikasi yang baik yang membuat anak merasa “nyokap bokap gw, gw banget,” buat anak merasa dekat sekali dengan orang tua.

"Jadi misalnya memosisikan diri sebagai teman atau sahabat anak-anak, bukan sebagai bos atau komandan yang ditakuti, membuat orang bosan karena segudang nasehat yang bertubi-tubi, ini sudah bukan jamannya lagi begitu," ujarnya.

Ia menyarankan agar orang tua membuat anak lebih tertarik pada orang tua dibanding pada gadget. Namun yang terjadi sekarang justru sebaliknya gadget lebih mengerti anak. Banyak anak-anak yang mengeluh, Orang tua kok enggak ngerti banget sih, kaya enggak pernah jadi anak aja sih.

Hal-hal seperti itu harus berubah, jangan terlalu banyak nasehat, tapi menjadikan diri sebagai sahabat anak. Yang paling penting komunikaisi dengan anak, sehingga anak tidak takut melapor. Sebaliknya kalau orang tua terlalu galak, terlalu cuek, terlalu menekan anak, mendikte, sehingga anaknya sebal dengan orang tua. Dan begitu ada masalah, anak enggak berani cerita, enggak mau cerita.

Kasus Emon yang di Sukabumi misalnya. Dia sudah menyodomi ratusan anak. Menurut Kak Seto, sekitar 60 anak membela Emon. Mereka mengatakan Emon yang paling mengerti mereka. Mereka merasa tidak dimengerti dikeluarga.

"Orang tua waspadalah, Anda sedang berlomba dengan para predator seksual," ujarnya.

Sayangnya fakta dilapangan menemukan bahwa orang tua seringnya melakukan komunikasi yang kurang baik pada anaknya. Banyak orang tua yang sering ngomel, marah-marah pada anaknya. Jadi seolah-olah dengan ngomel, marah, orang tua sayang.

"Sayang kalau caranya salah itu justru bukan sayang, justru sngat menjerumuskan anak dengan berbagai perilaku menyimpang diluar sana."