Senin , 13 February 2017, 08:28 WIB

Tips Menentukan Pilihan Paslon Bagi Pemilih Pemula

Rep: Desy Susilawati/ Red: Indira Rezkisari
Raisan Al Farisi/Republika
3 pasang calon gubernur-wakil gubernur DKI berswafoto usai mengikuti acara debat terbuka
3 pasang calon gubernur-wakil gubernur DKI berswafoto usai mengikuti acara debat terbuka

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Randi Rahardyan dari Sinergi Muda mengatakan sebenarnya pemuda mengawasi pemimpin setelah terpilih. Menurutnya kalau memang tidak suka, besok jangan dipilih lagi.

“Kita harus terus mengawasi karena kita harus punya inisiatif sendiri untuk mengembangkan dan mencakup apa kekurangan gubernur itu. Nanti apabila ada gubernur yang kita enggak suka, yang enggak kita pilih, itu jangan cuma dikritik doang, karena masyarakat juga sebenarnya punya porsi yang sama untuk membuat sesuatu untuk menjadikan masyarakat itu lebih baik, jadi jangan cuma menggantungkan harapan ke gubernur saja, tapi ke diri sendiri juga, ke komunitas juga, keluarga juga, kampus juga. Enggak perlu ribut dengan yang berbeda pendapat, kalaupun sempat ribut, damai lagi,” paparnya.

Ia mengatakan suara anak muda dalam pilkada ini sangat penting. Karena jumlah anak muda lebih dari 20 persen dan kebanyakan dari mereka itu swing voters, yang tidak tahu mau pilih siapa.

“Di kantor memilih beda, di rumah beda, di kampus beda, dan perbedaan itu sebenarnya memperkaya kan untuk dapat pandangan siapa yang terbaik. Itu justru saya pikir suara yang paling murni, yang enggak punya kepentingan, paling netral, benar-benar mengejar hal yang terbaik untuk Jakarta adalah suara anak muda. Jadi seberapa penting itu paling penting,” ujarnya.

Apakah pemilih muda akan gunakan hak suara di pilkada dengan baik? Menurutnya, sebenarnya kalau baik atau tidak itu relatif. Yang penting niatnya.

“Kalau menurut saya, dua-duanya ada, yang memilih secara baik ada, yang ikut-ikutan ada. Mungkin yang memilih karena mukanya saja ada. Yang penting sih, anak muda itu seharusnya membawa anak muda lain lingkungan lain untuk jadi motor supaya melihat substansinya, melihat programnya, melihat apa yang akan diperbuat sama paslon itu, enggak cuma isu-isu yang kebanyakan muncul. Khususnya di media sosial kita kan kebanyakan melihat agak ngeri ya,” ujarnya.
 
Ia juga menyarankan agar anak muda tidak menentukan pilihan saat masa kampanye. Tentukan pilihan pas hari H, saat masuk TPS.

“Jadi pas masuk TPS, setelah melihat semua program, nomor satu dua tiga semuanya itu biarkan ditampung saja, akan lebih baik menurut saya kalau baru menentukan pilih siapa waktu di dalam TPS,” ujarnya.

Menurutnya semakin kita kenal paslon, satu dua tiga, kita makin objektif pilihnya. Tapi kalau kita menentukan di zaman kampanye dikhawatirkan subyektif, karena kita milih dia tidak melihat substansi. “Itu seru juga sih. Kalau misalnya baru menentukan pilihan pas di depan kotak suara, itu akan fresh banget. Dan kita bisa ulas balik tuh, waktu dikampanye satu bagaimana, kampanye dua bagaimana, kampanye tiga bagaimana. Jadi kalau misalnya mau ikuti nomor empat terus. Kita akan loyal ke situ dan tidak akan objektif, akan subjektif. Kita ingin anak muda paling subjektif di antara lapisan masyarakat yang tua, muda, yang anak-anak yang pemula,” sarannya.