Senin , 13 February 2017, 07:50 WIB

Ini Hal yang Bisa Dipelajari Anak dalam Pilkada

Rep: Desy Susilawati/ Red: Indira Rezkisari
Antara/Lucky R.
Petugas KPU Kota Tangerang memeriksa dus berisi tinta sidik jari untuk Pilkada Gubernur Banten di kantor KPU kota Tangerang, Banten, Selasa (17/1).
Petugas KPU Kota Tangerang memeriksa dus berisi tinta sidik jari untuk Pilkada Gubernur Banten di kantor KPU kota Tangerang, Banten, Selasa (17/1).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemilihan kepala daerah (pilkada) tinggal dua hari lagi. Perang politik yang terjadi, terutama di Jakarta, sedang panas-panasnya. Walaupun begitu, menurut psikolog anak, Ine Indriani, banyak pelajaran yang bisa dipetik dari pilkada saat ini.
 
“Decision making atau mengambil keputusan, menganalisa, berpikir kritis, kebangsaan bahwa saya ini orang Indonesia, saya harus memilih. Rasa ada tanggung jawab juga, tanggung jawab kebangsaan. Terus kemudian lebih ke nasionalisme."

Selain itu, dari pilkada anak juga bisa belajar untuk berpolitik. Tahu tentang dunia politik. Belajar tentang berpendapat. Mereka juga bisa belajar untuk menahan emosi.
Karena seperti kita ketahui, banyak orang yang melepas pertemannya di akun media sosial karena dianggap terlalu provokatif atau terlalu negatif. Kepala akan berdenyut pening ketika membuka Facebook dan membaca statusnya tentang pilkada.

Anak juga bisa belajar untuk berpikir positif. “Selama ini kan negatif, negatif terus. Belajar objektif, sekarang menurut saya sudah tidak objektif pilihannya, sudah subjektif. Karena dipengaruhi agama, yang satu dipengaruhi ras, yang satu dipengaruhi kepentingan politik, sudah tidak objektif. Anak sekarang belajar untuk objektif. Untuk tenang, tidak mudah terprovokasi, kita tuh orang dewasa saja kalau tidak sesuai kayaknya pengen ngomong. Enggak ada juntrungannya lebih baik diam, itu kan butuh kemampuan untuk menahan diri,” paparnya.

Ine menegaskan kembali banyak pelajaran yang bisa diambil dari pilkada ini. Karena itu, lanjutnya, perlu kematangan diri untuk menghadapi pilkada ini, dalam artian emosi, segala macam. “Anak belajar berpikir seperti orang dewasa, berpikir kritis, berpikir logis, menganalisa berdasarkan data dan fakta. Bukan karena ikut-ikutan.”