Senin , 13 February 2017, 07:20 WIB

Hati-Hati, Pemilih Pemula Gampang Terpengaruh

Rep: Desy Susilawati/ Red: Indira Rezkisari
Antara/Widodo S. Jusuf
Sebuah angkutan umum melintas di dekat baliho sosialisasi Pilkada Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Tahun 2017 di Jakarta, Jumat (10/2).
Sebuah angkutan umum melintas di dekat baliho sosialisasi Pilkada Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Tahun 2017 di Jakarta, Jumat (10/2).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Psikolog anak mengatakan anak yang sudah bisa memilih dalam pilkada tahun 2017 ini merupakan kelompok yang paling mudah diperngaruhi. Jika mendapatkan berita-berita negatif dari paslon tertentu, bisa saja anak menjadi enggan memilih paslon tersebut. Mengapa begitu?

“Karena dia (anak pemilih pemula) memang secara otak memang belum terlalu matang, kan otaknya kan sedang beradaptasi seperti orang dewasa tapi belum. Nah yang tengah-tengah matang ini merasa, oh ya saya gede. Di satu sisi dia masih kecil,” jelas psikolog anak, Ine Indriani.

Selain itu, emosi juga hormonnya sedang tinggi-tingginya. Jadi anak tidak stabil. Sehingga mudah sekali untuk dipengaruhi, jadi sok idelalis.

“Makanya kalau pengeboman dan segala macam yang dipakainya anak yang labil kan. Karena dia gampang untuk dimasuki. Kalau kita kan lebih tahu, stabil. Tahu realitanya begini,” ujarnya.

Ine memberikan contoh. Ketika orangtua masih kuliah dan melakukan aksi demo, orangtua dulu menganggapnya realistis. Tapi kalau kita sekarang tarik lagi dalam perspektif orang dewasa, mungkin akan berbeda. “Oh iya ya, enggak realitis. Jadi tidak perlu demo."

Kalau anak usia pemilih pemula masih memiliki idealisme tinggi. “Secara hormon dan psikologis memang belum terlalu matang. Tapi memang sudah siap menuju dewasa. Usia gampang terpengaruh itu sebenarnya sudah berusia di atas 12 tahun sudah mulai. SMP, SMA sudah lebih mulai lagi, 16 tahun ya biasanya,” jelasnya.