Senin , 13 Februari 2017, 07:05 WIB

Orangtua tak Boleh Paksa Anak Memilih Paslon Jagoannya

Rep: Desy Susilawati/ Red: Indira Rezkisari
Republika/Prayogi
Warga mengikuti simulasi pilkada DKI Jakarta di Kantor Kecamatan Jatinegara, Jakarta,Kamis (2/2)
Warga mengikuti simulasi pilkada DKI Jakarta di Kantor Kecamatan Jatinegara, Jakarta,Kamis (2/2)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Setiap orang pasti memiliki paslon jagoannya dalam pilkada. Termasuk para orangtua. Tapi bukan berarti orangtua bisa memaksa anak yang sudah bisa memilih dalam pilkada nanti untuk memilih paslon jagoannya.

Hal ini diungkapkan psikolog anak, Ine Indriani, menurutnya walaupun orangtua memilih paslon unggulan, namun bukan berarti anak juga harus memilih jagoannya tersebut. “Harusnya sih enggak ya. Harusnya tidak memaksakan kehendak pada anak,” ujarnya.

Ine mengatakan ketika ada diskusi antara orangtua dan anak, berdebat pasti ada. Berdebat pun bisa jadi momen yang bagus antara orangtua dan anak untuk melatih anak berpikir kritis, logis, analitis, sebab akibat, serta berdasarkan fakta.

Orangtua lalu perlu memberikan kebebasan berbeda pendatan dengan anak. Di situ anak akan belajar menerima perbedaan.

“Di situlah seninya dimana orangtua menjelaskan, kuat-kuatan memberikan edukasi segala macam. Tapi tetap pilihan terserah dia mau pilih siapa. Karena dia sudah tahu konsekuensinya apa. Dia tahu konsekuensi positif ataupun negatifnya seperti apa. Di situ anak belajar berdebat yang sehat. Orangtua pun belajar untuk menahan diri,” jelasnya.

Tapi menurut Ine, orangtua boleh mengajak anaknya untuk bisa menentukan pilihan yang bertanggung jawab tidak asal coblos. Karena setiap orang punya jagoan masing-masing.

Orangtua bisa memberikan penjelasan, semacam berkampanye ke anak. “Misalnya orangtuanya pilih Anies karena begini, begini, begini. Tapi anaknya pilih Ahok karena alasan A,B,C. Segala macam. Nah di situ orang tua silakan memberi dukungan atau bantahan, ya itu juga tidak boleh memaksakan,” ujarnya.