Rabu , 30 November 2016, 10:06 WIB

Kapan Usia Tepat Mengajari Anak Bedanya Kebutuhan dan Keinginan?

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Andi Nur Aminah
Republika/ Wihdan
Ibu dan anak pergi ke mall dan berbelanja (ilustrasi).
Ibu dan anak pergi ke mall dan berbelanja (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemahaman tentang bedanya kebutuhan dan keinginan sangat penting diajarkan kepada anak. Pakar psikologi anak dan keluarga Anna Surti Ariani mengatakan, ada jenjang usia yang tepat untuk memberikan penyadaran tentang hal itu.

"Sebaiknya saat usia sekolah dasar, kira-kira sebelum anak berumur 12 tahun," kata Anna pada acara diskusi "Program Anak Cerdas" besutan organisasi pendidikan Prestasi Junior Indonesia (PJI) dan HSBC di SDN Bendungan Hilir 12, Jakarta, Selasa (29/11).

Ia menjelaskan, sesungguhnya pembentukan karakter anak telah dimulai sejak usia batita atau di bawah tiga tahun. Namun, pada usia itu perkembangan anak masih dalam tahap fisik sehingga hal rumit seperti kebutuhan dan keinginan belum bisa dipahami dengan baik.

Umur sekolah dasar, menjadi jenjang usia tepat karena perkembangan kognitif anak telah kian kompleks. Anak yang diajari mengenai perbedaan keinginan dan kebutuhan akan mengerti skala prioritas kebutuhan dan tidak impulsif dalam membeli atau meminta sesuatu kepada orang tua.

Dari kajian psikologi, Anna mengatakan, pemahaman yang terkait dengan literasi keuangan alias melek finansial itu berperan dalam proses pembentukan karakter anak. Selain mengerti apa saja kebutuhannya, anak juga akan terdorong memiliki karakter jujur, bijaksana, bertanggung jawab, pekerja keras, dan peka terhadap lingkungan sosial.

Pada ranah pendidikan, program literasi keuangan untuk anak memang telah dilangsungkan di sejumlah sekolah. Namun, Anna mengingatkan bahwa orang tua juga perlu memahami literasi keuangan sehingga bisa menjadi contoh yang baik bagi anak di rumah.

"Jangan sampai orang tua justru tidak tahu bedanya keinginan dan kebutuhan dan punya kebiasaan shopaholic. Harus buka mata dan memiliki pemahaman baik tentang literasi keuangan," ujar perempuan yang mendapat gelar S2 Psikologi Perkembangan dari Universitas Indonesia itu.