Thursday, 9 Ramadhan 1439 / 24 May 2018

Thursday, 9 Ramadhan 1439 / 24 May 2018

LAI: Industri Rokok Bidik Anak Muda Sebagai Generasi Pengganti

Jumat 01 April 2016 20:34 WIB

Rep: MG ROL 65/ Red: Hazliansyah

Berhenti merokok

Berhenti merokok

Foto: flickr

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kedekatan anak muda terhadap rokok saat ini sudah sangat tinggi. Sifat yang mudah terpengaruh dan terbawa arus menjadikan anak muda mudah dekat dengan rokok. Atas dasar ini, remaja dan anak-anak harus mendapatkan perlindungan dari pemasaran rokok yang agresif.

Lisda Sundari, Ketua Lentera Anak Indonesia mengatakan, industri rokok saat ini banyak membombardir remaja dengan iklan rokok yang memengaruhi pola pikir remaja. Mereka memberikan bentuk bahwa merokok merupakan satu tindakan postif.

Industri rokok yang ada sengaja membidik pasar anak muda sebagai generasi perokok pengganti. Dan hal tersebut bisa dilihat dari maraknya iklan rokok yang menampilkan gaya hidup remaja.

“Banyak industri rokok yang menargetkan anak muda sebagai konsumen mereka. Caranya melalui iklan, promosi dan sponsor. Dan itu terkonfirmasi oleh dokumen-dokumen internal perusahaan industri rokok. Mereka mengakui bahwa anak muda memiliki peran penting. Karena kalau anak muda tidak merokok, maka industri rokok akan terancam bangkrut,” ujarnya dalam diskusi “Keterlibatan Anak Muda dalam Kampanye FCTC, Tren Menguatnya Dukungan Publik terhadap Isu Pengendalian Tembakau”, Jumat (1/4).

Selain itu, akses anak muda terhadap penyebaran rokok juga harus menjadi kewaspadaan. Sebab harga rokok yang sangat murah dan kemudahan membelinya, membuat para remaja bagai dikepung oleh rokok.

Hal ini diungkapkan oleh Margianta Surahman Juhanda Dinata selaku Juru Bicara Gerakan Muda Framework Convention on Tobacco Control (FCTC).

“Bayangkan saja anak-anak mudah membeli sebatang rokok hanya dengan uang dua ribu rupah. Dan tidak ada warung yang menolak menjual rokok pada anak-anak,” papar Margianta.

Dr. Widyastuti Soerojo dari Ikatan Ahli Kesehatan Masyarajat Indonesia (IAKMI) mengungkapkan, perkembangan industri ada ditangan remaja.  Namun pada industri rokok, remaja dijadikan sebuah alat untuk mencapai sebuah profit.

Industri rokok pada dasarnya sangat dekat dengan remaja. Dan remaja yang tidak bisa berhenti merokok merupakan profit tersendiri bagi industri ini.

“Kebohongannya (industri rokok, red) adalah menarik remaja melalui iklan. Nanti setelah dia tahu karakternya (remaja, red), remaja akan akan mengonsumsi rokok dan terjebak sehingga ia tidak bisa berhenti. Itulah kunci keberhasilan antara industri rokok dan kebodohan remaja,” tambahnya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES