Rabu , 18 November 2015, 17:15 WIB

Murid PAUD tak Seharusnya Dibebankan Baca Hitung

Red: Yudha Manggala P Putra
 Anak-anak Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) mengikuti lomba kolase dalam acara Hari Anak Nasional di Taman Menteng, Jakarta, Ahad (23/8)  (Republika/Agung Supriyanto)
Anak-anak Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) mengikuti lomba kolase dalam acara Hari Anak Nasional di Taman Menteng, Jakarta, Ahad (23/8) (Republika/Agung Supriyanto)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Pembinaan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Ditjen PAUDNI-Dikmas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Ella Yulaelawati, mengatakan banyak PAUD yang memaksa anak untuk belajar membaca.

"Kondisi PAUD saat ini, memaksa anak untuk membaca, bising, klasikal, mengenakan seragam kotak-kotak, dan kurang produktif," ujar Ella dalam diskusi di Jakarta, Rabu (18/11).

Dia menambahkan seharusnya anak-anak pada usia PAUD tidak diajarkan untuk membaca. Idealnya anak-anak pada usia PAUD hanya dikenalkan akan huruf dan angka, tanpa harus dipaksa untuk membaca dan berhitung.

"Banyak PAUD yang mengajarkan membaca karena tuntutan dari para orang tua. Seharusnya para guru menyampaikan pada orang tua, bahwa anak usia PAUD tidak seharusnya dibebankan membaca dan berhitung."

Membaca dan berhitung, kata dia, seharusnya dimulai pada jenjang sekolah dasar (SD). Kemdikbud juga berencana untuk membuat komik dan lagu daerah untuk anak dan membuat kanal rumah dongeng online yang diperuntukkan bagi anak usia PAUD.

Seorang guru PAUD Istiqlal, Aries Susanti, mengatakan anak harus diajarkan secara benar pada usia dini. "Pendidikan anak yang benar adalah harus mengembangkan seluruh aspek anak. Anak usia dua hingga enam tahun, kata kuncinya bermain. Jadi jangan membebani anak baca, tulis dan hitung," ujar Aries.

Guru PAUD juga hendaknya terus belajar dan memahami kebutuhan pendidikan anak usia dini.

Sumber : Antara