Sabtu, 27 Syawwal 1435 / 23 Agustus 2014
find us on : 
  Login |  Register

Anak Anda Kurang Pede? Ini Dia Pemicunya

Senin, 02 Juli 2012, 12:08 WIB
Komentar : 0
allwomenstalk.com
Anak kurang percaya diri/ilustrasi
Anak kurang percaya diri/ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, Apa yang menyebabkan anak tidak percaya diri? Psikolog Neny Widyana menyebut sejumlah faktor. Pertama, orang tua terlalu banyak melarang. Bisa pula orang tua tidak memberi kesempatan kepada anak untuk melakukan sendiri apa pun. Akibatnya, anak tidak berani memulai dalam banyak hal. Ketika berteman pun tidak ada inisiatif memulai,katanya.

Ada juga anak sulit berteman karena orang tua terlalu memanjakannya. Ibaratnya, ujar Neny, kalau anak merengek saja orang tua sudah tahu keinginan si anak. Akibatnya, anak malas bicara, tinggal menunjuk. Anak merasa tanpa bicara pun, ibu sudah mengerti keinginannya.”

Tak jarang yang jadi biang perkara adalah sikap ayah bunda yang terlalu protektif. Misalkan, ada anak nakal, oleh orang tua langsung mengambil keputusan bahwa anaknya tidak boleh bermain dengan anak nakal tersebut. Seharusnya, biarkan saja anak menghadapi sendiri. Kalau anak terlalu diprotek untuk berteman saja dia tidak akan berani,kata Neny.

Bila orang tua sudah mengetahui penyebab kesulitan berteman, pola asuh harus diubah. Hindari membuat kalimat-kalimat negatif, ganti dengan kalimat positif. Selanjutnya, orang tua bisa mengajak teman-teman sebaya si anak bermain ke rumah. Buatkan saja acara atau membuat makanan, lalu undang anak-anak. Pasti mereka mau datang ke rumah,ujar Neny.

Ketika sudah berkumpul, orang tua tinggal memberi kegiatan yang bisa membuat anak mau berbaur. Selama bermain, orang tua harus memperhatikan anaknya, apakah mau berteman atau tidak. Karena, kata Neny, Kalau anaknya bete, malas bermain, diam saja, teman-temannya bisa kabur.’’

Setelah dibuat suasana yang memungkinkan anak berbaur, Neny menyarankan ayah bunda mengalokasikan waktu pengamatan. Bila selama 10 menit si buah hati diam saja, lebih baik anak tetangga itu pulang atau bermain dengan teman yang lain. 

Untuk mencari teman, psikolog dari Bandung ini menyarankan untuk memilih anak yang sebaya atau lebih muda. Teman yang lebih besar, misalkan usia SD, apalagi dominan hanya akan membuat anak semakin diam. Anak akan menurut saja kepada yang lebih besar. Sedangkan, jika bermain dengan yang lebih muda, sebagai anak yang lebih besar dia akan lebih ‘berkuasa’,tambahnya. 

Reporter : Susie Evidia
Redaktur : Endah Hapsari
Salah satu di antara kalian tidak beriman sebelum ia mencintai saudaranya (atau beliau bersabda: tetangganya) seperti mencintai diri sendiri. (HR Muslim)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar