Minggu, 20 Jumadil Akhir 1435 / 20 April 2014
find us on : 
  Login |  Register

Duh, Anak Sulit Berteman, Bagaimana Solusinya?

Senin, 02 Juli 2012, 10:07 WIB
Komentar : -1
sciencedaily.com
Anak penyendiri/ilustrasi
Anak penyendiri/ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, Sudah hampir satu tahun pelajaran Tina duduk di TK A. Tapi, kata Bu Guru, ia lebih banyak diam saja. Waktu istirahat, ia lebih suka duduk di dekat perosotan sendiri.

Sebenarnya, Bu Guru sudah mendekatkan Tina dengan Adel, temannya yang aktif dan periang. Mereka duduk bersebelahan. Lain waktu, Tina duduk di belakang Robi yang tergolong bandel. Tina kadang mau bermain, tapi lebih banyak sendiri,ujar Bu Guru saat melaporkan perkembangan Tina kepada ayah bundanya.

Psikolog Neny Widyana menjelaskan, ketika anak kesulitan berteman, carikan teman soulmate-nya. Maksud teman soulmate adalah anak yang supel, ramai, senang bergaul. Anak seperti ini pasti ada di setiap kelas. 

Menurut Neny, guru biasa ‘menugasi’ anak-anak seperti ini untuk membantu teman-temannya yang kesulitan berteman. Biasanya, guru akan mengatakan kepada si teman supel bahwa ia mendapat tugas selama dua hari ini menemani si anak pendiam. 

Ke mana-mana harus barengan, ya?ujar Neny menirukan permintaan yang umum dilontarkan Bu Guru. Si supel senang mendapat tanggung jawab.

Ketika diajak bermain oleh si supel, anak merasa dihargai. Dia merasa ada teman yang mau bermain dengannya. Lama kelamaan dia mau berteman,ujar psikolog anak ini. Setelah bermain dengan si soulmate, ia ajak bermain teman yang lain. Selanjutnya, anak diajak bermain bertiga, berempat, sampai akhirnya membentuk satu kelompok kecil.  Kalau sudah dalam ‘satu geng’, anak sudah bisa berbaur. 

Cara berteman soulmate ini, menurut Neny, sangat efektif dilakukan di sekolah. Sebab, dilakukan rutin setiap hari dan mendapat pengawasan dari guru. Jumlah temannya pun banyak dan lebih bervariasi. Selain mengajak teman bermain, guru sesering mungkin meminta anak tampil ke depan. Ia akan memberi anak tanggung jawab. Misalnya, memasangkan gambar, membantu temannya. Tugas-tugas itu membangun rasa percaya diri si anak.

Kondisi berbeda bila di rumah. Dalam seting keluarga, lulusan Fakultas Psikologi Universitas Islam Bandung ini lebih menitikberatkan pada pola pengasuhan orang tua. Ayah bunda harus mengetahui lebih dulu apa yang menyebabkan anak malas atau tidak mau berteman dengan yang lain. Kebanyakan anak tidak mau berteman karena tidak pede.

Reporter : Susie Evidia
Redaktur : Endah Hapsari
Sesungguhnya Kami telah mengutus (Muhammad) dengan kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan kamu tidak akan diminta (pertanggungjawaban) tentang penghuni-penghuni neraka. ((QS.Al-Baqarah [2]:119))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar