Friday, 30 Zulhijjah 1435 / 24 October 2014
find us on : 
  Login |  Register

Sering Marah-marah? Inilah yang akan Terjadi pada Anak Anda

Wednesday, 23 May 2012, 09:24 WIB
Komentar : 1
givinglifeonline.com
Anak marah
Anak marah

REPUBLIKA.CO.ID, Dari hasil riset terungkap bahwa, orangtua yang mudah marah dan bereaksi berlebihan lebih cenderung memiliki balita yang bertindak di luar batas dan menjadi mudah marah juga.

Penelitian ini merupakan suatu langkah penting dalam memahami hubungan yang kompleks antara genetika dan lingkungan rumah.

Dalam studi tersebut, peneliti dari Oregon State University, Oregon Sosial Learning Center, dan lembaga lainnya mengumpulkan data dari 361 keluarga di 10 negara.

Mereka meneliti anak-anak usia 9, 18 dan 27 bulan, dan menemukan bahwa orang tua angkat yang memiliki kecenderungan untuk bereaksi berlebihan, misalnya, adalah cepat marah ketika anak-anak bertindak diluar batas usia mereka dan melakukan kesalahan. 

Reaksi berlebihan orang tua ini memiliki dampak yang signifikan terhadap anak-anak mereka, yang menunjukkan "emosi negatif," atau bertindak di luar batas dan memiliki amarah di luar batas normal usia mereka.

Selain itu, faktor genetik juga berperan, terutama dalam kasus anak-anak yang berisiko genetik memiliki emosionalitas negatif dari ibu kandung mereka, tetapi dibesarkan di lingkungan yang membuatnya tingkat stresnya rendah atau kurang reaktif.

"Ini merupakan usia di mana anak-anak rentan untuk bertindak di luar batas," kata pemimpin penulis Shannon Lipscomb, asisten profesor perkembangan manusia dan ilmu keluarga di OSU-Cascades.

"Namun, penelitian secara konsisten menunjukkan bahwa anak-anak dengan peningkatan kadar emosionalitas negatif selama tahun-tahun awal usia mereka memiliki lebih banyak kesulitan dalam mengatur emosi dan cenderung menunjukkan perilaku yang bermasalah atau berlebihan ketika mereka usia sekolah."

Para peneliti juga menemukan bahwa anak-anak yang menunjukkan peningkatan terbesar dalam emosionalitas negatif saat mereka berkembang dari bayi sampai balita (dari sembilan sampai 27 bulan) akan memiliki perilaku bermasalah yang tinggi juga pada usia dua tahun.

Ini menunjukkan bahwa emosi negatif mempengaruhi proses perkembangan mereka sendiri yang memiliki implikasi bagi perilaku anak-anak kemudian.

Lipscomb mengatakan yang harus diperhatikan orang tua adalah cara mereka beradaptasi dengan masa balita anak-anak mereka. Masa balita ini merupakan waktu menantang bagi orang tua karena ditandai dengan peningkatan mobilitas dan kemerdekaan anak dan dapat berdampak pada bagaimana perkembangan anak mereka.

"Kemampuan orang tua untuk mengatur diri mereka sendiri dan untuk tetap teguh, percaya diri dan tidak bereaksi berlebihan adalah cara utama mereka dapat membantu anak-anak mereka untuk memodifikasi perilaku mereka," katanya.

Reporter : desy susilawati
Redaktur : Endah Hapsari
Siapa yang mengambil hak orang lain walau sejengkal tanah akan dikalungkan hingga tujuh petala bumi(HR Bukhori-Muslim)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Ini Langkah Awal Danjen Kopassus Baru
JAKARTA -- Mayjen TNI Doni Monardo resmi dilantik menjadi Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus, Jumat (24/10) menggantikan posisi dari Mayjen TNI Agus Sutomo. Pelantikan...