Selasa, 3 Safar 1436 / 25 November 2014
find us on : 
  Login |  Register

Anak Suka Berebut Mainan? Inilah Cara Menyiasatinya

Kamis, 10 Mei 2012, 10:13 WIB
Komentar : 1
ourkids.net
Orang tua harus konsisten, peringatkan anak sebelum menjatuhkan konsekuensi. Bila tetap tak menghiraukan, pastikan konsekuensi itu diberikan sebagai bukti keseriusan ucapan orang tua.
Orang tua harus konsisten, peringatkan anak sebelum menjatuhkan konsekuensi. Bila tetap tak menghiraukan, pastikan konsekuensi itu diberikan sebagai bukti keseriusan ucapan orang tua.

REPUBLIKA.CO.ID,  “Ini mainanku!” seru Zahratussita Anaya. Gadis  yang belum lagi genap tiga tahun itu berteriak menukas sepupunya, Fathi Bhiya. Meski lebih kecil, Fathi tak kalah garang. Di usia dua tahun, ia sudah bisa mempertahankan barang yang ia yakini sebagai kepunyaannya. “Bukan, ini punyaku,” bantah Fathi.

Selanjutnya, bisa ditebak. Keduanya berebut mainan. Tak ada yang mau mengalah. Drama malam itu pun berakhir dengan pecahnya tangis Fathi.

Sepintas, kejadian seperti itu terbilang lumrah. Bagaimana penilaian dari kacamata psikologi? Psikolog A Kasandra Putranto menjelaskan perilaku tersebut memang merupakan polah khas anak yang usianya di bawah empat tahun. “Mereka belum memahami konsep berbagi.”

Di usia seperti Anaya dan Fathi, anak memandang dunia berpusat di dirinya. Segalanya yang ia sukai otomatis dianggap sebagai miliknya. “Anak-anak masih di fase egosentris,” ungkap Kasandra.

Kecenderungan mengklaim mainan sebagai miliknya boleh saja dimaklumi. Namun, orang tua sebaiknya tak membiarkan perilaku tersebut. “Kasus ini jamak di Indonesia,” kata Kasandra.

Sebagian kasus berlanjut hingga usia dewasa. Mereka yang gagal keluar dari fase egosentris tumbuh menjadi sosok yang pelit. “Tak ada data yang menunjukkan angka kejadiannya, tetapi bisa terlihat dengan kasat mata,” komentar psikolog yang juga pemerhati masalah anak ini.

Kasandra memaparkan setiap anak terlahir dengan dorongan-dorongan yang khas dari dalam dirinya. Tugas mereka adalah melatih kemampuan diri untuk mengendalikan dorong an tersebut sesuai dengan tatanan nilai moral sosial yang ada. “Sejumlah penyebab membuat mereka luput menguasai keterampilan ini.”

Mereka yang memiliki karakter temperamen dengan dorongan yang memang terlalu tinggi berpotensi menjadi orang yang pelit. Demikian juga, dengan orang yang tumbuh dengan minim stimulasi atau stimulasi yang tidak efektif. “Anak tunggal yang termanjakan, inkonsistensi disiplin, dan faktor orang tua atau pengasuh yang tidak kompeten juga turut andil dalam menciptakan perilaku tak menyenangkan ini,” urai Kasandra.

Telanjur pelit
Apa daya jika anak masih berada di fase egosentris di saat ia sudah harus keluar dari situ? Kasandra menegaskan orang tua sebagai tokoh sentral dalam keluarga bertanggung jawab untuk mengenali karakter anak, mengenali situasi, dan mengupayakan metode yang efektif untuk mempersiapkan anak dan mengaplikasikannya.

“Pengasuh bisa menerapkannya dengan atau tanpa bantuan ahli psikologi.” Untuk itu, Kasandra menyarankan orang tua yang kesulitan memperkenalkan konsep berbagi untuk berkonsultasi dengan tenaga ahli. Tujuannya, agar masalah anak dapat terselesaikan sebelum berkembang lebih pelik.

Jika tidak dilakukan tindakan dengan cepat, anak akan membawa kelemahan pemahamannya ke tahap perkembangan berikutnya. Walhasil, ia menciptakan situasi yang sulit untuk dirinya sendiri. “Andaikan tak mau berbagi terus-terusan, anak bisa mengalami masalah sosialisasi,” ucap Kasandra.

Anak sebaiknya mulai diajak mengerti dan menyadari konsep kepemilikan di usia tiga tahun. Patokan ini tentunya berlaku untuk anak tanpa hambatan intelegensi ataupun masalah psikologis lain. Contohkan cara membedakan barang miliknya dan barang milik orang lain. “Pada anak berkebutuhaan khusus, keterlambatan pemahamannya akan bergantung tingkat keparahan faktor hambatan,” tutur Kasandra.

Inilah tips mengajak anak berbagi:

1. Anak perlu belajar sejak dini nilai-nilai moral dan sosial tentang perilaku baik ataupun buruk serta boleh atau tidak boleh.
2. Anak perlu berlatih dalam banyak situasi. Mulai dari yang sederhana untuk meminta dengan baik atau meminjamkan barang miliknya dengan ikhlas.
3. Manfaatkan buku cerita ataupun kreasikan dongeng sebagai alat bantu. Cerita pendek dari media cetak atau audiovisual cukup efektif untuk membantu orang tua        menanamkan suatu nilai.
4. Libatkan anak dalam kegiatan belajar aktif dan mengalami langsung.
5. Lakukan kegiatan bermain peran untuk merasakan apa yang dirasakan orang lain bila kita melakukannya.
6. Jika mengalami kesulitan pengasuhan, bekerja samalah dengan ahli untuk mengatasi masalah ini. Pengabaian hanya akan merugikan anak ke depannya. Bukan mustahil anak bakal kesulitan berinteraksi dan bersosialisasi ketika bergaul.

Redaktur : Heri Ruslan
Mimpi yang paling benar ialah (yang terjadi) menjelang waktu sahur (sebelum fajar)((HR. Al Hakim dan Tirmidzi))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Baru 10 Persen Tergarap, Wisata Lombok Masih Kalah Dari Bali
JAKARTA -- Lombok memang sudah menjadi destinasi wisata tersohor di Indonesia. Akan tetapi Lombok masih kalah tenar dengan tempat wisata yang ada di...