Senin , 16 Januari 2017, 09:23 WIB

Makna di Balik Sepiring Yu Sheng Saat Imlek

Rep: Rizkyan Adiyudha/ Red: Indira Rezkisari
Republika/Rizkyan Adiyudha
Yu Sheng
Yu Sheng

REPUBLIKA.CO.ID, Perayaan Imlek bagi kaum Tionghoa di Indonesia kurang lengkap rasanya tanpa acara makan bersama. Beragam jenis sajian kuliner sudah pasti tersedia di atas meja makan. Ini sekaligus menunjukkan rezeki yang sudah didapatkan sepanjang tahun.

Menjelang Imlek, beragam restoran khususnya yang terfokus pada menu masakan Cina menawarkan sajian khas Imlek. Sebenarnya budaya makan seperti apa yang tersaji saat perayaan tahun baru Cina itu?

"Kalau sudah makan itu biasanya minimal 10 hidangan tersedia," kata pakar kuliner Indonesia, Willian Wirjaatmadja Wongso di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Salah satu menu yang tak boleh terlewat adalah Yu Sheng. Makanan itu sebenarnya merupakan hidangan yang sudah di-Indonesiakan. William mengatakan, Yu Sheng pertama kali berkembang di sebuah restoran di Singapura sekitar tahun 1963. Sesungguhnya William mengatakan tradisi asli Cina tidak menyajikan Yu Sheng dalam perayaan Imlek.

Indonesia lantas mengadopsi makanan tersebut lantaran memiliki filosofi yang cukup unik. Setiap bahan makanan memiliki makna dan mewakili doa serta harapan untuk menjalani tahun berikutnya.

Yu Sheng merupakan makanan berbahan baku utama ikan dan sayuran. Kedua bahan tersebut kemudian diberi bumbu-bumbu semisal kayu manis, wijen, kerupuk, minyak ayam, lada putih dan saus plum. Salmon menjadi ikan langganan yang digunakan dalam hidangan tersebut.

"Sebenarnya ikan lain boleh saja, tapi hanya salmon yang berwarna merah dan dipercaya membawa keberuntungan," kata William Wongso.

Menyantap Yu Sheng juga tidak boleh sembarangan. Berdasarkan tradisi, sebelum menyantap hidangan diharuskan menuangkan taburan bumbu. Selain itu proses pengadukan makanan juga harus diangkat setinggi mungkin.

Proses tersebut menunjukkan doa-doa dan rezeki yang bakal didapat tahun depan. William mengatakan, konon semakin berantakan hidangan Yu Sheng di atas meja kian sedikit keberuntungan yang didapatkan pada tahun berikutnya.

"Jadi ada tradisi yang diturunkan. Pengadukan Yu Sheng juga dilakukan bersama sebagai makna kebersamaan, rejeki melimpah dan berlipat serta keberuntungan," kata William.

Sedikitnya ada 15 jenis sayuran dalam hidangan tersebut. Namun, jumlah sayuran bisa saja bertambah tergantung imajinasi pembuat makanan. Setiap sayuran yang dimasukkan tentu memiliki makna dan doa yang terkandung di baliknya.

Dalam campuran juga ada jeruk yang melambangkan keberuntungan berlipat dan keripik yang menyimbolkan batangan emas. Lobak putih dan hijau jadi simbol harapan kemajuan signifikan dan kemudaan. Sementara minyak wijen berarti keuntungan yang belipat ganda, sumber kekayaan yang berlimpah dan rezeki yang terus mengalir.

Untuk membuat Yu Sheng bahan baku serta bumbu yang digunakan harus segar dan tidak dimasak. "Harapan dan doa boleh apa saja tapi pada umumnya meminta hoki," katanya.