Jumat, 7 Jumadil Akhir 1439 / 23 Februari 2018

Jumat, 7 Jumadil Akhir 1439 / 23 Februari 2018

Internet dan Teknologi Lahirkan 5 Penyakit Mental Ini

Rabu 03 Januari 2018 05:01 WIB

Rep: Noer Q Kusumawardhani/ Red: Indira Rezkisari

Pengguna gadget/ilustrasi

Pengguna gadget/ilustrasi

Foto: Republika/Tahta Aidilla

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kemajuan teknologi membawa keuntungan bagi beberapa generasi terakhir. Hanya saja sesuatu yang positif bisa membawa hal negatif bila berlebihan.

Menurut laporan Times of India, Rabu (3/1), periset telah menemukan beberapa gangguan mental yang disebabkan oleh meningkatnya penggunaan internet dan teknologi manusia. Inilah beberapa jenis gangguan mental tersebut.

Selfitis

Menurut makalah baru berjudul An Exploratory Study of 'Selfitis' and the Development of the Selfitis Behaviour Scale yang diterbitkan dalam International Journal of Mental Health and Addiction olehperiset Janarthana Balakrishnan (Thiagarajar School of Management) dan Mark DGriffiths (Nottingham Trent University), menemukan satu set faktor yang mendorong orang untuk berswafoto secara obsesif dan menilai mereka pada skala perilaku selfitis.

Dari jumlah tersebut, 25,5 persen adalah kronis, 40,5 persen akut, dan 34 persen adalah rata-rata. Selfitis pada pria memiliki tingkat lebih tinggi daripada wanita (57,5 persen sampai 42,5 persen). Orang yang lebih muda di kelompok usia 16-20 tahun ditemukan rentan terkena selfitis. Sembilan persen peserta berswafoto lebih dari delapan kali setiap harinya, dengan 25 persen mengunggah setidaknya tiga swafoto di media sosial.

Phantom Ringing Syndrome

Pernahkan Anda merasa ponsel bergetar di saku padahal tidak ada yang terjadi? Itu adalah phantom ringing syndrome.

Hal tersebut dicirikan sebagai halusinasi taktis karena otak merasakan sensasi yang tidak ada. Menurut Dr Larry Rosen, 70 persen pengguna ponsel mengalami phantom ringing syndrome.

Efek Google

Kebanyakan percakapan di pertemuan sosial dimulai dengan, 'saya Googling beberapa hari yang lalu'. Hal itu menunjukkan betapa pentingnya Google di kehidupan manusia.

Yang tidak sengaja terjadi adalah mengkondisikan pikiran manusia untuk menyimpan lebih sedikit informasi karena ia tahu bahwa semua jawaban hanya dengan beberapa klik saja. Penelitian menunjukkan akses informasi tak terbatas menyebabkan otak manusia kurang mendapat informasi.

Nomophobia

Nomophobia adalah ketakutan irasional apabila hidup tanpa ponsel atau tidak dapat menggunakan ponsel karena beberapa alasan, seperti pulsa sedikit, kehilangan sinyal. Istilah ini merupakan singkatan dari no-mobile fobia yang pertama kali diciptakan oleh organisasi riset di Inggris.

Sebuah penelitian selama satu dekade menemukan 53 persen pengguna ponsel merasa cemas saat tidak dapat menggunakan telepon mereka. Separuh pengguna tidak pernah menutup ponsel mereka.

Jika Anda mendapati diri anda selalu waspada terhadap notifikasi atau tanpa henti menjangkau ponsel dalam interval yang sering, saatnya melakukan detoksifikasi digital.

Cyberchondria

Cyberchondria adalah kecenderungan percaya bahwa Anda memiliki semua di diri Anda setelah membaca secara daring. Sebut saja tipuan, kemalasan, kesalahan informasi atau reaksi yang berlebihan. Dalam beberapa kasus menimbulkan kecemasan baru karena banyak informasi medis di luar sana tanpa konteks yang tepat.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA