Jumat , 05 May 2017, 12:38 WIB

Jangan Abaikan Kondisi Prediabetes

Rep: desy susilawati/ Red: Esthi Maharani
Boldsky
Diabetes
Diabetes

REPUBLIKA.CO.ID, Prediabetes yang merupakan pencetus Diabetes Melitus Tipe 2 (DMT2) telah menjadi permasalahan kesehatan global, tidak terkecuali di Indonesia. Angka kejadian prediabetes di Indonesia meningkat setiap tahunnya dan jumlahnya dua kali lipat dari angka penderita diabetes.

Penanda prediabetes yaitu kadar glukosa darah puasa 100 sampai 125 mg/dl dan atau kadar glukosa darah dua jam post prandial 140 sampai 199 mg/dl. Dalam jangka waktu 3 sampai 5 tahun, 25 persen prediabetes dapat berkembang menjadi DMT2, 50 persen tetap dalam kondisi prediabetes, dan 25 persen kembali pada kondisi glukosa darah normal.

“Dengan melakukan deteksi dini prediabetes. Upaya pencegahan prediabetes dapat dilakukan dengan beristirahat cukup, mengonsumsi makanan rendah kalori dan tinggi serat, seperti sayur mayur, buah-buahan, dan biji-bijian, serta melakukan aktivitas fisik minimal lima kali dalam seminggu dengan durasi 30-60 menit,” jelas Ketua Persatuan Diabetes Indonesia (PERSADIA) wilayah Jakarta, Prof.Mardi Santoso dalam konferensi pers Program Edukasi ”Petingnya Deteksi Dini dan Pencegahan Prediabetes, di Jakarta, Kamis (4/5).

Ia mengatakan jika tidak ditangani dengan baik, maka dalam jangka waktu pendek prediabetes dapat berkembang menjadi DMT2. Kasus prediabetes menyerupai fenomena gunung es, di mana jumlah individu yang belum terdeteksi DMT2 (termasuk prediabetes) lebih banyak dibandingkan DMT2.

International Diabetes Federation 2011 memperkirakan, pada tahun 2030 sebanyak 398 juta penduduk dunia akan mengalami prediabetes. Sementara itu, hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007 menemukan bahwa prevalensi DMT2 daerah perkotaan Indonesia sebesar 5,7 persen, sedangkan prevalensi prediabetes hampir dua kali lipatnya yaitu 10,2 persen.

Hasil riset ini diperkuat oleh data dari Departemen Kesehatan 2008 yang menyatakan prevalensi prediabetes di Indonesia dua kali lipat dari angka penderita DMT2, atau 11 persen dari total penduduk Indonesia. Hal ini berarti jumlah penduduk Indonesia yang terkena DMT2 akan meningkat dua kali lipat dalam waktu dekat.

Meski jumlah prediabetes di Indonesia semakin tinggi, namun manajemen untuk pasien prediabetes belum banyak dikaji. Selain itu kurangnya pedoman dan upaya deteksi dini prediabetes membuat kondisi prediabetes tidak diketahui dan tidak teramati.

Kepala Subdirektorat Diabetes Melitus dan Gangguan Metabolisme, Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, drg Dyah Erti Mustikawati, MPH, mengatakan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, khususnya Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, mengatakan prediabetes memiliki keterkaitan yang erat dengan penyakit diabetes, terutama DMT2. Deteksi dini prediabetes sangat penting sebagai upaya menekan tingginya angka DMT2, terutama jika mengingat prediabetes tidak hanya menyerang kelompok usia tua, namun juga sudah ditemukan di kelompok usia muda serta produktif.