Senin , 27 Maret 2017, 18:04 WIB

Vaksin HPV Cara Paling Efektif Mencegah Kanker Serviks

Rep: Desy Susilawati/ Red: Winda Destiana Putri
EPA/DEUTSCHES KREBSFORSCHUNGSZENTRUM
 virus papiloma manusia yang dapat menyebabkan kanker serviks
virus papiloma manusia yang dapat menyebabkan kanker serviks

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kanker leher rahim atau lebih dikenal dengan kanker serviks saat ini menjadi penyebab kematian perempuan nomor dua di dunia setelah penyakit jantung koroner. Namun, dalam kurun waktu setahun ke depan diprediksi kanker leher rahim akan menjadi penyebab kematian wanita nomor satu, jika tidak dilakukan upaya deteksi dini dan pengobatannya. Saat ini, setiap dua menit seorang perempuan meninggal dunia akibat kanker serviks.

Khusus di negara-negara berkembang seperti Indonesia, penyakit kanker serviks merupakan penyebab utama kematian. Terkait hal ini, Himpunan Onkologi Ginekologi Indonesia (HOGI) terus melakukan sosialisasi dalam rangka eradikasi kanker serviks melalui program vaksinasi HPV nasional.

Ketua Umum Himpunan Onkologi Ginekologi Indonesia, Prof Andrijono, SpOG(K)  menjelaskan, hasil penelitian yang dilakukan RSCM menunjukkan untuk setiap 1.000 orang yang menjalani skrining kanker serviks, ditemukan 1 penderita. Angka ini tidak jauh berbeda dengan data dari Subdit Kanker Direktorat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kementerian Kesehatan, di mana insiden suspek kanker leher rahim adalah 1,3 per 1000 penduduk.

Sayangnya program deteksi dini kanker serviks melalui Papsmear maupun inspeksi Visual Asam Asetat (IVA) belum maksimal. Sejak disosialisasikan tahun 2007 dengan sampai tahun 2016 baru sekitar 1,5 juta perempuan usia 30 sampai 50 tahun yang menjalani skrining kanker serviks (bersama kanker payudara) dari target 37 juta perempuan usia 30 sampai 50 tahun. Cakupan skrining IVA hanya 3,5 persen dan papsmear 7,5 persen.

Alhasil kebanyakan kanker serviks terdeteksi di stadium lanjut. Data terbaru tahun 2016 di RSCM, seperti dituturkan Prof. Andrijono yang juga menjadi staf di Departemen Obstetri dan Ginekologi FKUI/RSCM ini, menunjukkan 82,3 persen pasien kanker serviks yang berobat di rumah sakit rujukan nasional tersebut datang di stadium lanjut. Kanker serviks stadium lanjut memiliki prognosis sangat buruk karena mudah menyebar ke hampir semua organ yang ada di panggul dan sangat jelek merespon pengobatan. Akibatnya angka kesintasan sangat rendah yakni hanya 14 persen yang bertahan hidup selama 1 tahun, 6 persen bertahan hidup sampai tahun kedua sejak terdiagnosis, dan 0 persen (tidak ada) yang mampu bertahan hidup sampai tahun kelima.

Apa yang dapat dilakukan untuk mencegahnya? Mengingat sebagian besar kanker serviks disebabkan infeksi Human Papilloma Virus (HPV), maka vaksinasi menurut Prof. Andrijono, adalah langkah paling efektif dan aman mencegah kanker serviks. Berkaca dari pengalaman di Amerika Serikat dan Australia yang sudah menjalankan program vaksinasi HPV nasional sejak 10 tahun lalu, di mana saat ini insiden kanker serviks di dua negara tersebut menurun signifikan, sampai 75 persen.

Program vaksinasi HPV sejak tahun lalu sudah dilakukan di Pemrov DKI Jakarta di mana cakupannya mencapai 93 persen. Setidaknya 70 ribu siswa Sekolah Dasar perempuan di DKI Jakarta sudah divaksin HPV.  “Angka tadi menunjukkan respon masyarakat bagus. Ada sekolah yang tadinya menolak program vaksin HPV yang justru kemudian meminta. Tahun ini menyusul program serupa di Surabaya dan Yogyakarta dan tahun depan di Makasar dan Manado. Jadi programnya masih mengandalkan kemauan dinas kesehatan pemerintah daerah setempat. Kita berupaya supaya program vaksinasi nasional dipercepat,” ujar Andrijono dalam siaran pers yang diterima Republika.co.id, Senin (27/3).