Kamis , 11 Februari 2016, 12:16 WIB

Begini Cara Mengatasi Anak Mengompol

Rep: Desy Susilawati/ Red: Andi Nur Aminah
ist
Anak yang mengompol dan diberi hukuman justru bisa membuat kebiasaannya bertahan lama dari seharusnya.
Anak yang mengompol dan diberi hukuman justru bisa membuat kebiasaannya bertahan lama dari seharusnya.

REPUBLIKA.CO.ID, Brenda Cheer, seorang pengawas spesialis perawat dokter anak yang bekerja untuk ERIC mengatakan sebagian besar dari kita memang tidak buang air kecil sebelum tidur. Ini karena biasanya, kita semua membuat hormon yang di malam hari disebut vasopresin.

“Ketika kita tidur, hormon tersebut memberitahu ginjal untuk mengurangi produksi urin tapi lebih terkonsentrasi urin. Namun pada beberapa orang yang ngompol, hormon ini tidak bekerja. Tandanya jika tempat tidur mereka basah segera setelah pergi tidur,” ujarnya seperti dikutip dari laman Mirror, Kamis (11/2).

Dapatkan dunia medis membantunya? Menurut Chinnaiah Yemula, seorang konsultan dokter anak dan pakar mengenai ompol (nocturnal enuresis), jika masalahnya ada pada hormon vasopressin, anak-anak dapat diberikan pengobatan yang disebut desmopressin. “Ini memangkas jumlah air kencing yang diproduksi ginjal sehingga kandung kemih tidak penuh,” ujarnya.

Namun, anak-anak yang sudah berhenti ngompol bisa kembali mengompol. Apa sebabnya? Menurut Brenda ini karena anak banyak gerak disekolah, bullying atau bahkan masalah di rumah bisa menjadi penyebabnya.

“Kegelisahan menyebabkan kadar vasopressin menurun jadi produk air kencing tidak berkurang di malam hari. Atau anak-anak mungkin terkena kebiasaan buruk, seperti minum minuman berkarbonasi sebelum tidur,” jelasnya.

Apakah mereka ngompol sampai dewasa? Menurut Yemula dalam kebanyakan kasus itu akan terjadi jika mereka masuk dalam kategori ringan mengompol, paling tidak tiga kali dalam seminggu. Atau kategori moderat tiga sampai enam kali seminggu.

“Jika mereka lakukan itu setiap malam, kebiasaan mengompol ini dapat berlangsung hingga mereka remaja jika tidak diobati. Jika orang tua suka mengompol, maka kemungkinan 40 persen anaknya juga berkesempatan suka mengompol juga. Karena itu mengetahui orang tua yang mempunyai masalah yang sama dapat meyakinkan pihak anak dalam berurusan dengan masalah mengompol"ujarnya.